Rumah Baca: Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Minat dan Kemampuan Baca Siswa

Pelaksanaan program INOVASI Fase I telah resmi berakhir pada pertengahan 2020 lalu, dan kini telah memasuki Fase II. Berbagai capaian telah banyak digaungkan dari pelaksaan di Fase I tersebut, baik oleh para guru di sekolah maupun para pengambil kebijakan seperti dinas pendidikan dan pemerintah daerah. Hal ini tidak terlepas dari berbagai praktik baik yang telah diimplementasikan oleh para guru, kepala sekolah, dan Fasilitator Daerah (Fasda), serta dukungan dari pemerintah daerah dan pihak lainnya.

Untuk memastikan keberlanjutan praktik-praktik baik tersebut, tentu perlu upaya dan kolaborasi dari sekolah dengan pemangku kepentingan yang ada di masing-masing daerah. Oleh karena itu, Salomi Wati, Plh. Kepala Sekolah SD Negeri Wera di Sumba Timur mendorong terbangunnya kerja sama antar sekolah dengan beberapa perusahaan yang beroperasi di Sumba Timur. Hal ini dilakukan melalui perantara anggota komite sekolah, yang juga merupakan bagian dari perusahan-perusahaan itu.

“Saya melihat dampak program INOVASI ini baik sekali bagi anak-anak kami. Karena INOVASI sudah mau berakhir, saya lalu berpikir bagaimana agar kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan bisa terus dilanjutkan,” kata Salomi di satu waktu di awal 2020.

Dukungan dari para donatur termasuk perusahaan yang bergerak di sektor pertanian dan industri perhotelan digunakan untuk membangun sebuah rumah baca di dalam sekolah. Ide tersebut terlintas dalam benak Salomi setelah melihat sebuah pos di Facebook tentang rumah baca. Ia kemudian mengajak komite sekolah untuk rapat dan membahas usulan tersebut. Komite sekolah tentu menyambut baik usulan tersebut.

Pengelolaan rumah baca tersebut diserahkan ke sekolah tapi dapat diakses oleh masyarakat sekitar yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut. Kepala desa setempat juga menyambut baik ide pembangunan rumah baca ini. Terlebih saat mengetahui rumah baca tersebut juga dapat digunakan oleh masyarakat sekitar.

Desa Kadumbul, di mana SD Negeri Wera berada, sebenarnya sudah memiliki sejumlah koleksi buku namun belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan ruang di kantor desa. Buku-buku dari desa tersebut kemudian dipilah yang sesuai untuk jenjang pendidikan dasar untuk digunakan di rumah baca.

Rumah baca itu berupa bangunan sederhana beratapkan alang-alang dengan tiang kayu. Anak-anak duduk di atas lantai semen dengan beralaskan plastik permainan ular tangga raksasa. Kini, rumah baca tersebut ramai dikunjungi oleh siswa. Penggunaan rumah baca tersebut dimaksimalkan dengan kebijakan #SabtuMembaca yang dikeluarkan oleh sekolah. Setiap Sabtu, siswa dari kelas 1 sampai 6 bersama-sama membaca di rumah baca atau di tempat-tempat lain yang nyaman di luar kelas. Kegiatan ini dilakukan pada jam keempat atau kelima dan berlangsung selama 2×35 menit.

Pada saat membaca, masing-masing guru mendampingi siswanya. Guru-guru kelas awal menerapkan metode-metode yang mereka pelajari selama pelatihan dan pendampingan bersama INOVASI. Mereka menggunakan buku-buku berjenjang yang telah disediakan oleh INOVASI – selain buku-buku yang telah dipilah dari desa. Pengelompokkan berdasarkan kemampuan membaca di kelas juga diterapkan pada saat #SabtuMembaca.

Strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru-guru di kelas dan kehadiran rumah baca itu telah mendorong peningkatan minat baca siswa secara siginifikan. “Anak-anak yang tadinya malas membaca jadi semangat membaca,” kata Salomi.

Terhadap guru, INOVASI telah meningkatkan kapasitas pengajaran mereka khususnya dalam pembelajaran literasi di kelas awal. Guru-guru semakin kreatif untuk mengembangkan metode dan media pembelajaran. Tidak lagi klaslikal, metode pembelajaran guru sudah bergeser ke metode yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.

“Program INOVASI membantu kami – guru dan siswa – dengan menggunakan strategi dan media pembelajaran yang tepat sehingga memudahkan anak menerima materi pelajaran dan memahami isi bacaan. Setelah memahami bacaan, mereka lebih mudah menerima pelajaran lainnya,” pungkas sarjana pendidikan SD yang menjadi guru selama lebih dari 20 tahun ini.

Memastikan Perpustakaan Sekolah Tetap Ramah Anak

Di Pulau Sumba, kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan masih tergolong rendah. Senni D. Bilaut, Kepala Sekolah SD Inpres Binawatu di Kabupaten Sumba Tengah mengatakan orang tua siswa merasa kontribusi mereka hanya sebatas memastikan anak-anaknya bisa bersekolah. Sementara urusan apakah anaknya mau belajar atau tidak lebih diserahkan kepada sekolah. “Kemampuan kami hanya sebatas ini saja. Pendidikan kami rendah,” kata Senni menirukan respon salah satu orang tua siswa ketika diminta untuk terlibat dalam peningkatan minat belajar anaknya.

Menyadari hal itu, melalui guru-guru, Senni terus mendorong siswanya untuk memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan minat baca mereka. Namun hal itu tak kunjung berhasil. Pasalnya, koleksi buku yang ada sebagian besar adalah buku-buku pelajaran. Sementara buku-buku lainnya tidak sesuai untuk siswa sekolah dasar, misalnya buku tentang cara beternak ikan lele.

Hal ini dikonfirmasi oleh Semuel Olla, pustakawan yang sudah bertugas di SD Inpres Binawatu sejak 2014. “Ada yang datang (ke perpustakaan) tapi kebanyakan hanya mengambil buku, lihat sebentar lalu kembalikan ke lemari,” kata Semuel. Menurutnya, penataan ruangan perpustakaan juga turut berkontribusi pada rendahnya minat siswa ke perpustakaan. “Dindingnya berwarna putih polos dan tidak ada gambar atau lukisan di dinding. Tidak ada rak buku. Siswa kadang tidak mengembalikan buku ke lemari. Jadi, bukunya berhamburan di lantai,” lanjut Semuel.

Meski memiliki latar belakang pendidikan bidang perpustakaan, Semuel mengaku sehari-hari hanya melakukan rutinitas seperti merapikan buku, membuat katalog buku dan menerima kunjungan dari siswa. Sekolah menerapkan program literasi 15 menit yang dilakukan sebelum KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung. Siswa dapat mengunjungi perpustakaan dan membaca di mana saja tanpa pendampingan dari guru. Praktik ini pun tidak membawa perubahan signifikan pada minat baca siswa.

Setelah mendapatkan pendampingan dalam program Perpustakaan Ramah Anak, SD Inpres Binawatu menggunakan ruang perpustakaan yang berbeda untuk buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita. Buku-buku cerita ditempatkan di perpustakaan yang dikembangkan bersama TBP (Taman Bacaan Pelangi). Setelah proses renovasi dilakukan, TBP memberikan sekitar 1.500 eksemplar buku dengan berbagai judul dan jenjang.

Selanjutnya, pustakawan, guru-guru, dan kepala sekolah bahkan penjaga sekolah mengikuti pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan, termasuk register buku, penjenjangan buku, penataan ruangan, dan cara melakukan kegiatan membaca yang terdiri atas membaca lantang, membaca bersama, membaca mandiri dan membaca berpasangan.

Tampilan fisik perpustakaan yang menarik dan pengelolaan perpustakaan yang ditingkatkan membuat siswa-siswa lebih sering ke perpustakaan di luar jam kunjung wajib yang telah ditentukan. Mereka juga betah membaca di dalam perpustakaan. Banyak yang bahkan menghabiskan waktu istirahat mereka membaca di perpustakaan. Menurut Semuel, orang tua siswa juga menyampaikan bahwa anaknya jadi lebih sering membaca di rumah dengan buku yang dipinjam dari perpustakaan.

“Anak-anak jadi lebih sering membaca. Karena ada buku yang dipinjam dari perpustakaan,” kata Semuel menirukan ungkapan salah satu orang tua.

Masih perlu ditingkatkan

Meski anak-anak sudah menunjukkan minat baca yang tinggi namun pendampingan yang dilakukan guru belum maksimal. Pasalnya, menurut Semuel, masih ada guru yang mangkir dari tugasnya, mendampingi siswanya pada jam kunjung wajib. Hal ini juga disampaikan oleh Senni. “Saat pendampingan, guru-guru sudah melalukannya sesuai dengan apa yang kami dapatkan selama pelatihan. Tapi tinngkat partisipasi mereka masih kurang. Kadang mereka tidak hadir (saat jam kunjung wajib),” kata Senni.

Untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi, Senni sebagai kepala sekolah mengambil sejumlah langkah. Selain meminta laporan tertulis dari guru-guru dan pustakawan, ia juga datang ke perpustakaan saat jadwal jam kunjung untuk melihat apakah guru melakukan pendampingan atau tidak. Saat dirinya tidak berada di sekolah, Senni meminta wakil kepala sekolah untuk meninjau langsung ke perpustakaan.

Senni mengatakan tidak segan mengurangi nilai kinerja guru jika terbukti tidak melakukan pendampingan siswa. “Saya ingin membangun rasa kepemilikan dan tanggung jawab mereka terhadap peningkatan kemampuan membaca siswa,” kata Senni.

Sementara untuk menjaga agar perpustakaan agar tetap ramah anak, Senni akan mengalokasikan dana BOS untuk melakukan penyegaran pada tampilan fisik dan buku yang dipajang di rak. Penyegaran ini akan dilakukan sekali dalam tiga bulan. Dana BOS juga akan digunakan untuk membiayai KKG (Kelompok Kerja Guru) mini untuk peningkatan kapasitas guru dan pustakawan secara berkelanjutan serta refleksi kegiatan yang telah dilakukan.

Dalam pendampingan, Senni menekankan penggunaan tutur kata yang baik saat guru dan pustakawan berinteraksi dengan siswa. “Kalau siswa belum mengerti bagaimana melakukan peminjaman, bagaimana menjaga buku, jangan dibentak! Cukup diberitahu saja,” ujar Senni.

Membangun Jiwa Santri yang Literat

Semangat Siti Aminah, S.Pd Guru MI Muhammadiyah Watukebo Kabupaten Jember di Provinsi Jawa Timur begitu membara usai pulang dari pelatihan literasi yang dikembangkan oleh INOVASI pada 2018 lalu. Siti yang merupakan salah satu fasilitator dari Muhammadiyah untuk Kabupaten Jember, memiliki semangat yang tinggi dan percaya bahwa madrasah juga bisa sebaik sekolah yang maju lainnya.

Semangat tersebut dituangkannya dengan berbagi ilmu ke sesama guru usai kembali ke madrasahnya. Sebagai Wakil Kepala Madrasah untuk bidang kurikulum, Siti bersama kepala madrasah juga membuat beragam program literasi agar madrasahnya menjadi semakin baik. “Saya memiliki cita-cita untuk menjadikan para santri saya memiliki jiwa yang literat melalui program literasi yang dikembangkan oleh madrasah,” ungkapnya.

Program yang dikembangkan di madrasahnya meliputi: Penerapan jam baca dan budaya baca di setiap kelas, menata perpustakaan menjadi lebih baik dan nyaman sehingga dapat menarik minat para santri untuk mendatangi perpustakaan, mendorong santri agar membuat produk-produk literasi, dan merangkul semua pihak termasuk orangtua agar menumbuhkan budaya membaca baik di madrasah maupun di rumah. Karena koleksi buku perpustakaan yang terbatas, Siti juga menjalin kerjasama dengan perpustakan kabupaten untuk pinjam pakai buku bacaan secara rutin.

Upaya ini rupanya dilirik oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember. MI Muhammadiyah 1 Watukebo diminta mewakili Kabupaten Jember dalam Lomba Inovasi Pengelolaan Madrasah tingkat Jawa Timur pada November 2019 lalu. MI Muhammadiyah 1 Watukebo berhasil mendapatkan Juara 3 untuk kategori madrasah literat. Hal ini menjadi kebanggaan bagi Siti, apalagi madrasahnya salah satu madrasah pelosok yang awalnya tidak diunggulkan.

“Saya sangat bangga dengan kerjasama semua guru, pimpinan dan semua pihak yang senantiasa mendukung pengembangan madrasah salah satunya melalui program literasi,” kata Siti.

Semangat Siti tak berhenti sampai disitu. Upayanya untuk terus menghasilkan para santri yang literat adalah dengan mendorong wali murid untuk mendukung anak-anak mereka semangat membaca. Upaya ini berhasil, beberapa siswanya ada yang berubah menjadi gemar menulis bahkan hingga menerbitkan buku, dan ada pula wali murid yang kemudian membuat perpustakaan mini di rumahnya karena ketertarikan anaknya dan warga sekitar akan buku menjadi tinggi.

Dalam rangka memperingati Hari Santri, Siti berharap agar semangat untuk membangun santri yang literat masih terus ada sepanjang dirinya menjadi guru. “Meski saat ini masa pandemi, saya dan para guru di MI Muhammadiyah 1 Watukebo tetap berupaya agar santri yang belajar di rumah harus tetap membaca buku,” ungkap guru yang sudah mengajar selama 18 tahun ini.

Siti saat ini sedang mempersiapkan buku karyanya yang berisi tentang kumpulan praktik baik literasi dari beragam pengalaman mengembangkan minat baca di madrasahnya. Buku berjudul ‘Model-model Literasi Sang Juara’ akan dicetak dan diperbanyak sebagai dokumen gerakan literasi di madrasah Siti.

Harta Karun Ajaib Membuat Siswa Senang Bermain Kalimat

Agar anak termotivasi untuk belajar menulis, terutama menulis kalimat yang panjang di kelas 2, seorang guru kelas 2 MI As’adiyah Sukorame Pasuruan, Mahmudah, S.Ag, membuat permainan bernama ‘Harta Karun Ajaib’. Berbahan selembar styrofoam, jarum pentul, kardus bekas, dan gelas plastik bekas, ia membuat permainan tersebut.

Pertama-tama, kardus ia potong pada satu sisi, kemudian di atasnya ia beri styrofoam. Pada ujung kardus ia tempelkan gelas plastik bekas. Lembaran styrofoam tersebut kemudia ia pasangi jarum pentul. Selanjutnya ia pun membuat bola kecil dari kertas bekas yang ia bentuk menjadi bulat dan ia rekatkan menggunakan lem. Selanjutnya, ia pun menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk siswa dalam lembaran-lembaran kertas. Dalam permainan tersebut, siswa pun wajib menjawab pertanyaan tersebut dalam selembar kertas.

Bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan, Mahmudah akan memberikan reward tanda bintang atau pun hadiah kecil dalam bentuk jajanan ringan / permen.

Cara bermainnya cukup mudah, siswa tinggal menggelindingkan bola dari atas melewati rintangan-rintangan jarum pentul hingga jatuh kebawah masuk ke salah satu gelas. Selanjutnya siswa mengambil kertas di dalam gelas yang sudah Mahmudah siapkan dan membacakan keras-keras di depan teman-temannya.

Beberapa pertanyaan yang ia buat misalnya:

  1. Berikan contoh pengalamanmu di sekolah?
  2. Sebutkan dan tuliskan bunyi sila dalam Pancasila?
  3. Jelaskan bagaimana suasana di pegunungan?
  4. Jelaskan bagaimana suasana di desa?

“Setelah membacakan pertanyaan yang mereka temukan, siswa pun dapat langsung menjawab lalu disambung dengan kegiatan menuliskan jawabannya dalam selembar kertas,” cerita Mahmudah.

Untuk waktu pelaksanaannya, kegiatan belajar sambil bermain ‘Harta Karun Ajaib’ ini biasanya Mahmudah lakukan pada pagi hari menjelang pelajaran, atau di siang hari menjelang waktu pulang sekolah demi untuk menstimulasi siswa berliterasi.

Menurut Mahmudah, siswa-siswanya sangat antusias mengikuti permainan ini, selain kemampuan siswa membuat kalimat menjadi  lebih baik melalui permainan ini, siswa pun terpacu untuk berpartisipasi demi untuk mendapatkan reward atau hadiah.

Reading Camp untuk Mempercepat Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelas Awal

“Bagaimana mungkin anak bisa mengikuti pelajaran sesuai kurikulum kalau membaca saja tidak bisa?” Pertanyaan ini dulu pernah dilontarkan oleh Beatriks M. E. Kurnianingsih, Kepala Sekolah SD Katolik Kalelapa, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur awal 2019 lalu lantaran mendapati kemampuan membaca siswa di sekolahnya tergolong rendah. Sejak saat itu, SD Katolik Kalelapa pun mencoba menerapkan Reading Camp, sebuah metode pembelajaran untuk mempercepat peningkatan kemampuan dasar membaca siswa khususnya di kelas awal.

Reading Camp pada hakikatnya adalah kelompok membaca. Pada kegiatan Reading Camp, siswa dari kelas 1, 2, dan 3 dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca awal mereka. Karena demikian, pengelompokan ini dilakukan secara terorganisasi dan terjadwal oleh para guru dan kepala sekolah. Begitu pula dengan penilaian beserta evaluasi hasil penilaian.

Informasi kemampuan membaca awal siswa diperoleh melalui tes formatif yang telah disediakan oleh INOVASI dan dapat dikembangkan oleh para guru seiring perkembangan kemampuan siswanya. Tes tersebut menguji kemampuan siswa dalam membaca huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana, serta pemahaman mereka. Kelima tahapan tes inilah yang menjadi basis pengelompokan siswa. Setiap kelompok didampingi oleh satu atau lebih guru tergantung jumlah siswa dalam kelompok tersebut.

Marlince U. Deta yang pada waktu itu merupakan guru kelas 2A mendapatkan mandat untuk mendampingi kelompok membaca kata. Di awal pelaksanaan kegiatan, kelompok ini terdiri dari tujuh siswa yang berasal dari kelas 2 dan 3. Pada kelompok ini, Marlin – begitu ia biasa disapa – menggunakan kartu kata untuk membantu para siswa merangkai kalimat. Reading Camp sendiri diadakan 3 kali dalam sepekan dan berlangsung sepanjang hari – khususnya untuk kelompok membaca huruf, suku kata, dan kata.

Di semester kedua 2019, Marlin dipercaya untuk mengampu siswa kelas 1 setelah sekitar 2 tahun mengajar di kelas 2. Saat pertama kali mengajar, ia mendapati seluruh siswanya masih berada di kelompok membaca huruf. “Wajar karena mereka baru masuk sebagai siswa baru,” kata Marlin. Selain mendapatkan pembimbingan oleh guru pendamping kelompok membaca huruf, siswa-siswa kelas 1 juga dibimbing langsung oleh Marlin di luar jadwal Reading Camp. Pendampingan tambahan ini dilakukan Marlin hampir setiap hari selama beberapa menit.

Marlin membagi mereka ke dalam tiga kelompok kecil agar pembelajaran bisa lebih fokus. Ia juga meluangkan waktu untuk beberapa siswa cenderung lamban dalam belajar. Misalnya dengan mengajak siswa-siswa tersebut untuk bermain tebak cepat huruf. Marlin meletakkan sejumlah huruf secara acak di atas meja. Kemudian meminta dua atau tiga siswa untuk berlomba menunjuk huruf-huruf yang ia sebutkan.

Kepala Sekolah, Ningsih, meyakini bahwa Reading Camp dengan berbagai strategi pendampingan yang dilakukan guru dapat mengatasi persoalan rendahnya kemampuan membaca siswa jika dilakukan secara konsisten. Hal ini diamini oleh Marlin yang melaporkan bahwa sudah ada siswanya yang naik tingkat ke membaca suku kata dan kata. “Jadi, tinggal 11 orang yang ada di (kelompok) huruf,” ungkap Marlin mengacu pada hasil penilaian pada November 2019.

Menurut Marlin, kegiatan membaca huruf jauh lebih menantang daripada membaca kata karena siswa kurang atau bahkan belum pernah mengenal huruf sebelumnya. Banyak siswa yang sulit membedakan huruf-huruf yang bentuk simbolnya mirip seperti b, d, dan p.

Keterbatasan Bukan Penghalang Kegiatan Belajar yang Bermakna

Atap yang bocor dan lantai yang beralaskan debu dari lantai semen yang sudah hancur adalah pemandangan pertama yang disugukan saat memasuki kelas-kelas di SD Negeri Batu Karang di Kabupaten Sumba Barat Daya. Meja-meja pun dipenuhi oleh debu sehingga ketika setiap kali akan belajar di kelas siswa mesti membersihkannya terlebih dahulu.

Di sisi lain, penampilan siswa juga beragam. Ada yang memakai seragam merah putih di hari Sabtu, ada yang memakai pakaian biasa. Ada yang memakai sepatu lengkap dengan kaos kakinya, ada pula yang sama sekali tidak memakai alas kaki. Bukan hanya itu, para siswa juga belum atau sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia.

Penampilan mereka bukanlah disebabkan oleh ketidakpatuhan mereka terhadap aturan sekolah, melainkan karena keterbatasan mereka untuk membeli lebih dari satu pasang seragam. Seragam yang mereka miliki kerap kotor dan penuh dengan keringat setelah bermain ataupun menempuh jarak jauh dari dan ke sekolah mereka.

Bukan hanya itu, mereka juga belum atau bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Hal ini seperti diungkapkan oleh Margaretha Ped Daido. “Saya sampai bingung sendiri. Lalu saya sempat menangis. Oh Tuhan, saya tidak bisa ini. Kenapa saya bisa mengajar di sini? Anak-anak yang begitu belum mengenal bahasa Indonesia yang benar. Selain itu pula, saya juga bukan asli di sini,” kata guru kelas 1 ini.

Margaretha sudah mengajar di SD Negeri Batu Karang selama 15 tahun terakhir. Berasal dari pulau Flores, ia sempat merasa frustrasi lantaran tidak tahu bagaimana harus mengajar anak-anak yang hanya bisa berbahasa Kodi yang merupakan bahasa setempat.

Namun, kondisi ruang kelas, kelengkapan sekolah para siswa, dan kendala bahasa tidak menghalangi kegiatan belajar mengajar di kelasnya.

Rasa cinta dan kasihnya kepada anak-anak muridnya menjadi bahan bakar semangatnya untuk mengajarkan bahasa Indonesia. Untuk bisa melakukan itu, Margaretha pun belajar bahasa Kodi secara perlahan sehingga bisa berkomunikasi dengan mereka. Selanjutnya, setelah mendapatkan pendampingan program Pembelajaran Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMBBI) kerja sama Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dengan INOVASI, ia pun menerapkan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa transisi ke bahasa Indonesia.

Untuk membantu siswanya lebih cepat memahami pelajaran, Margaretha mengajak mereka untuk mengenal nama benda-benda sekitar. Selain itu, buku cerita yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Kodi juga membantunya menyampaikan materi kepada siswanya. Terlebih dengan kehadiran gawai pintar yang berisi cerita dalam bahasa Kodi dan terjemahan bahasa Indonesia. Anak-anak yang biasanya datang, duduk, dan diam saja, kini dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran.

Keberadaan Margaretha di SD Negeri Batu Karang bukan tanpa alasan. Sebagai sekolah yang terpencil, kekurangan sumber daya memang menjadi masalah utama. Selain dirinya yang berasal dari luar pulau Sumba, ada juga Guru Garis Depan (GGD) dari daerah lain yang ditempatkan di sini.

Keterbatasan sumber daya itupun tidak memberi pilihan bagi Kedu Rabaho. Dengan keadaan tuli, dirinya harus menjadi kepala sekolah di sekolah ini karena tidak ada lagi yang bisa mengemban tugas tersebut. Sehari-hari, ia meminta guru-guru untuk berbicara setengah berteriak kepadanya agar ia mampu menangkap suara mereka. Kadang, guru-guru juga menuliskan pesan di atas kertas lalu memberikannya kepadanya.

Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah ini, hal tersebut nyatanya tidak menyurutkan semangat untuk mencerdaskan anak-anak Sumba Barat Daya, khususnya di daerah Kodi.

Di mata Kedu Rabaho, kehadiran program ini sangat membantu anak-anak dalam membaca. “Dengan buku-buku dan tablet yang disediakan, anak-anak sangat terbantu untuk membaca. Memang kemampuan mereka belum banyak meningkat tapi media tersebut membuat mereka semangat untuk belajar,” pungkasnya.

Mengembangkan Media Pembelajaran yang Mudah dan Murah

Akses terhadap media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik masih menjadi tantangan di berbagai wilayah di Indonesia. Di SD Negeri Wee Pabowi, salah satu sekolah di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, para guru terutama yang mengajar di kelas awal cukup kesulitan mendapatkan perhatian siswa selama pembelajaran berlangsung. Begitu pun dengan upaya peningkatan minat belajar siswa. Hal ini tentu berdampak pada rendahnya kemampuan literasi siswa.

Media pembelajaran yang terbatas dan tidak pernah diperbaharui serta metode ceramah yang selama ini menjadi andalan guru sebagai metode pembelajaran ditengarai menjadi musabab dari permasalahan ini. Menurut penuturan Petrus P. B. Wali, Fasilitator Daerah (Fasda) yang mendampingi sekolah ini, media pembelajaran yang selama ini digunakan hanya buku paket atau buku Kurikulum 13 (K13).

“Buku referensi untuk pembelajaran hanya dari cetakan pabrik (buku K13) yang dipakai dari tahun ke tahun. Belum ada alat bantu belajar lainnya. Guru ceramah saja sehingga tidak ada umpan balik dari siswa. Jadi, guru tidak tahu apakah mereka sudah paham atau tidak,” ungkap Petrus.

Dukungan kepala sekolah juga dirasa kurang. Administrasi sekolah tidak berjalan dengan baik yang berujung pada tidak cairnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ini juga tentu, kata Petrus, menjadi alasan mengapa guru tidak memiliki alat bantu pembelajaran tambahan.

Mendorong Perubahan dalam Praktik Belajar Mengajar

Namun situasi ini perlahan-lahan berubah saat Petrus mulai melakukan pendampingan di SD Negeri Wee Pabowi. Ia mendorong guru-guru agar memanfaatkan apa saja yang tersedia untuk mengembangkan media pembelajaran. Pada modul pelatihan Big Book, Petrus bersama guru-guru yang didampingi membuat buku tersebut dengan menggunakan kertas HVS.

“Pertama, kami beri judulnya misalnya, Ayah Pergi ke Kebun. Dari judul tersebut kami kembangkan lagi dengan bertanya misalnya, ‘Apa yang dilakukan saat pergi ke kebun?’ Jawaban pertanyaan tersebut kemudian menjadi kalimat pada halaman selanjutnya. Begitu seterusnya hingga mencapai sedikitnya delapan halaman. Setelah itu, kalimat-kalimat yang sudah disusun disalin ke kertas karton. Guru-guru kemudian menggambarinya dengan gambar yang menarik.

Guru-guru menggunakan Big Book yang dibuat dengan membaca bersama. Ada juga yang menggunakannya dengan membaca pemodelan yaitu guru membaca dan siswa mengikuti. Gambar yang menyertai tulisan membuat siswa lebih mudah mengerti apa yang mereka baca,” terang Petrus.

Berkat pelatihan dan pendampingan yang dilakukan Petrus bersama INOVASI, guru-guru kini bisa membuat Big Book dan mengetahui fungsi dan cara menggunakannya. Mereka juga memahami bahwa media pembelajaran yang menarik dapat menarik minat baca anak dan meningkatkan kemampuan mereka. “Guru-guru jadi lebih kreatif, membuat Big Book sesuai konteks anak-anak Sumba. Gambar-gambarnya membuat anak cepat membaca tulisan,” imbuh Petrus.

Guru-guru kini tidak melulu ceramah. Metode pengajarannya lebih interaktif. Siswa dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga guru bisa mengetahui apakah siswa sudah paham atau belum.

Kepemimpinan sekolah yang kini berada di kepala sekolah yang baru juga membawa angin segar bagi pengembangan kelas literat di SD Negeri Wee Paboi. Dana BOS sudah bisa cair secara rutin, sekali dalam tiga bulan sehingga guru-guru bisa memanfaatkannya untuk terus mengembangkan media pembelajaran lainnya. Sementara Petrus yang sebelumnya mengajar di SD Masehi Tana Bara, kini menjadi kepala sekolah di SD Satap Kamberalaja. Ia pun bertekad untuk mengaplikasikan apa yang selama ini ia dapatkan bersama INOVASI di tempat pengabdiannya saat ini.

Strategi Pembelajaran yang Sesuai Kebutuhan Siswa

Pada tahun-tahun sebelum 2018, hampir separuh dari jumlah siswa kelas 3 di SD Negeri Lindi masih belum bisa membaca. Bahkan masih ada beberapa siswa yang belum sepenuhnya mengenal huruf. John Bels Lodo Lay, guru yang mengampu siswa kelas 3, mengatakan, “Dulu, siswa saya itu lengkap dari segi kemampuan membaca. Ada yang bisa membaca lancar, membaca kata, membaca suku kata, dan bahkan masih ada yang baru bisa membaca huruf, padahal sudah kelas 3.”

Menurut John, saat itu memang sudah ada pengelompokan berdasarkan kemampuan membaca siswa di mana di dalam setiap kelompok terdapat siswa yang kemampuannya sudah cukup baik. Siswa ini bertindak sebagai tutor sebaya bagi siswa lainnya dalam kelompok tersebut. Namun, guru jadinya hanya berfokus pada siswa ini. “Jika saya melihat tutor sebaya ini sudah bisa memahami pelajaran, saya anggap strategi pembelajaran saya sudah berhasil tanpa melihat apakah siswa lainnya sudah memahami atau belum,” kenang John.

Melalui pelatihan dan pendampingan program INOVASI, kata John, fokus ini dibalik. “Tidak ada tutor sebaya dan semua siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka. Semuanya diberikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing kelompok tapi yang menjadi fokusnya adalah anak-anak yang kemampuan membacanya masih rendah, seperti kelompok huruf dan suku kata,” jelas John.

Lebih jauh, John menyebutkan faktor-faktor lain yang menyebabkan rendahnya kemampuan literasi siswanya. Misalnya, guru menghabiskan terlalu banyak waktu untuk urusan administrasi pembelajaran dan penggunaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai Kurikulum 2013 (K13) yang dianggap rumit. “Jadinya, saya tidak punya waktu untuk mengembangkan teknik-teknik pembelajaran yang efektif, hanya fokus mengajar sesuai apa yang ada di RPP. Sementara RPP itu tidak melihat aspek perbedaan kemampuan siswa.”

Ini membuat pembelajaran di kelas John masih berpusat pada dirinya. Ia juga tidak menggunakan alat bantu selain buku paket. Ini menyulitkan dirinya untuk mengajak para siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Selama penerapan program INOVASI di SD Negeri Lindi, John menggunakan berbagai macam media pembelajaran seperti kartu huruf, kartu kata, gelas kata, kompas huruf, dan permainan ular tangga. Sebagian media ini dikembangkan sendiri oleh John dari hasil pelatihan bersama INOVASI. Anak-anak yang dulunya hanya dikenalkan dengan lambang huruf, kini juga sudah mengenal bagaimana huruf dibunyikan sehingga lebih cepat bisa membaca kata.

Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) pun mengalami perubahan. Dari yang sebelumnya berbasis gugus dan tidak berkala, kini berbasis komunitas dan diadakan secara reguler. Konten pembahasannya pun tidak lagi hanya berfokus pada perangkat pembelajaran seperti Program Tahunan (Protap), Program Semester (Promes), dan RPP tapi juga pada bagaimana mendesain strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa. Ini termasuk media pembelajaran dan skenario pembelajaran yang lebih sederhana.

Dampak yang terlihat jelas dari program Literasi Kelas Awal bersama INOVASI, kata John, adalah meningkatnya semangat dan keaktifan siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain itu, jumlah siswa yang sudah bisa membaca lancar juga meningkat dibanding dengan kelas 3 di tahun-tahun sebelumnya. Pemahaman mereka terhadap bacaan pun kini jauh lebih baik.

Bagi dirinya dan rekan guru lainnya, John mengatakan, “Saya dan teman-teman guru lainnya jadi lebih semangat untuk terus belajar – meningkatkan kemampuan mengajar kami.” Mereka juga lebih kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran yang sesuai kemampuan siswa. “Itu semua dilakukan sejalan dengan K13,” kata John.

Pada praktiknya, menurut John, mengintegrasikan metode-metode yang ia pelajari selama pendampingan program INOVASI tidaklah sulit. Kendati demikian, John mengaku penyesuaian tertulis pada RPP K13 masih menjadi kendala baginya.

Papan Kata untuk Belajar dengan Metode Jembatan Bahasa

Di Kabupaten Bima, NTB, penggunaan bahasa daerah memang sangat dominan di keseharian masyarakatnya termasuk anak-anak. Sebuah kondisi yang kemudian menjadi tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak-anak masih kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak yang duduk di SD kelas awal tersebut belum menguasai bahasa pengantar pembelajaran – bahasa Indonesia. Pemerintah Kabupaten Bima bekerja sama dengan INOVASI, program kemitraan pemerintah Australia dan Indonesia, telah mengimplementasikan program yang fokus dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas awal dengan melakukan transisi bahasa pengantar pembelajaran di kelas awal. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah ‘Jembatan Bahasa’.


Metode Jembatan Bahasa menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan pembelajaran di daerah dengan tantangan bahasa. Melalui pelatihan dan pendampingan program INOVASI, para guru di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dilatih secara berkesinambungan selama beberapa bulan sehingga secara mandiri mampu mempraktikkan metode ini saat mengajar, khususnya di kelas-kelas awal. Mereka bahkan juga telah mengembangkan beberapa kegiatan pembelajaran kreatif dari metode Jembatan Bahasa. Salah satunya adalah Sunardin S.Pd, guru SDN 6 Sila. Sejumlah media pembelajaran telah ia buat sendiri untuk mendukung kegiatan pembelajaran tersebut.

Belajar sambil bermain menggunakan “Papan Kata” adalah salah satu cara Sunardin untuk membantu proses pembelajaran siswanya. Pada papan kata tersebut ada sejumlah gambar dari sebuah benda atau kegiatan. Nantinya, anak-anak akan menyebutkan nama dari gambar benda atau kegiatan itu dalam bahasa Mbojo, bahasa yang kerap digunakan oleh masyarakat Bima. kemudian anak-anak akan diminta untuk menyusun kata dari benda atau kegiatan tersebut dengan menggunakan potongan-potongan huruf yang sudah ia siapkan.

Setelah menggunakan bahasa lokal Mbojo, ia akan mengulangi lagi proses ini tapi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan cara ini, anak-anak akan mengenal nama benda atau kegiatan sesuai gambar tersebut dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya, Sunardin akan meinta anak-anak untuk menyusun huruf-huruf sehingga membentuk nama benda atau kegiatan tersebut.

Penting untuk memastikan bahwa benda-benda ataupun kegiatan yang dimunculkan dalam aktifitas ini berkesesuaian dengan tema pelajaran saat itu. Hal tersebut adalah untuk memudahkan proses pembelajaran.

Ada tiga media pembelajaran yang Sunardin buat dan ia gunakan secara berurutan karena tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Biasanya, ia akan memulai dengan menggunakan “Kamus Bahasa” terlebih dahulu, kemudian disusul dengan penggunaan “Papan Dua Bahasa”, setelah itu “Papan Kata”. Menurutnya, Papan Kata memang lebih rumit karena siswa akan diminta untuk menyusun huruf-huruf membentuk kata dari benda atau kegiatan yang ada di gambar, baik itu dalam bahasa lokal Mbojo dan juga dalam bahasa Indonesia.

Tidak Ada Perpustakaan? Pustaka Mini Bisa Jadi Solusi

Upaya untuk menarik minat baca siswa di SD Negeri Wee Lalaka di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, terus dilakukan oleh guru-guru dan kepala sekolah. Sekolah yang terletak di kaki bukit di Kabupaten Sumba Barat ini sebenarnya sudah memiliki bangunan khusus untuk perpustakaan. Namun, gedung tersebut sudah lama tidak digunakan karena kondisinya yang membahayakan siswa. Tembok dindingnya sudah rusak, plafonnya sudah bolong-bolong. Di beberapa bagian, bahkan tripleksnya terlihat menggantung. Karena kondisi tersebut, sekolah akhirnya menjadikan tempat penyimpanan beberapa peralatan sekolah. Sebenarnya sekolah sudah melaporkan kondisi ini dan mengajukan pendanaan perbaikan ke dinas pendidikan setempat namun sampai saat ini belum dianggarkan.

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, pendampingan INOVASI melalui program Literasi Kelas Awal di sekolah ini telah menghasilkan sudut baca di ruang-ruang kelas – khususnya di kelas awal. Namun, karena hanya berupa meja kecil, sudut baca tersebut tidak bisa memuat banyak buku untuk dipajang. Oleh karena itu, Fasilitator Daerah (Fasda) untuk sekolah ini berinisiatif untuk membuat pustaka mini.

Pustaka mini ini terbuat dari beberapa potong bambu yang disusun menyerupai rak dan digantung di dinding. Pembuatannya pustaka mini dilakukan oleh para guru. Pemilihan bambu sebagai bahan dasar dikarenakan tumbuhan tersebut banyak tumbuh di lingkungan sekitar.

Buku-buku yang dipajang di pustaka ini adalah buku-buku cerita penunjang literasi. Terkadang beberapa buku pelajaran juga dipajang di sana. Setiap bulannya, guru-guru kelas mengganti buku yang dipajang agar siswa tidak bosan. Jumlah buku yang dipajang disesuaikan dengan jumlah siswa dalam kelas.

Menurut Sori Kadiwano, Kepala Sekolah SD Negeri Wee Lalaka, kehadiran pustaka mini ini mengundang minat baca siswa. “Saya melihat sendiri siswa menggunakan buku-buku yang ada di sudut baca dan pustaka mini untuk membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Dan itu dilakukan tanpa harus diinstruksikan oleh gurunya,” ungkapnya. Bahkan lebih jauh, kata Sori, ini telah menjadi kebiasaan bagi para siswa. Saat guru berhalangan hadir misalnya, para siswa dengan sendirinya akan membaca buku-buku yang ada di dalam kelas – termasuk yang ada di pustaka mini.

Tak hanya di kelas awal, kini kelas tinggi pun sudah mereplikasi apa yang dilakukan oleh guru-guru di kelas awal. Guru-guru kelas tinggi juga menghadirkan pustaka mini di dalam kelas mereka.

Sori berharap agar ke depannya, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat dan lembaga-lembaga pemerhati literasi terus mendukung pengadaan buku-buku untuk pustaka mini ini. “Agar semangat baca anak-anak terus terjaga, buku-buku perlu diperbarui. Kami berharap agar dinas dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam peningkatan literasi bisa mendukung kami untuk pengadaan buku-buku,” kata kepala sekolah yang sudah menjabat selama 2 tahun ini.