Temu Inovasi #10: Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh – Bagaimana Mengembangkan Keterampilan HOTS di Masa Pandemi Covid-19?”

Daring, 26 November 2020 – Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbang dan Perbukuan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum Temu Inovasi yang diselenggarakan dalam semangat memperingati Hari Guru Nasional (25 November). Mengusung tema “Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh: Bagaimana Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi di Masa Pandemi Covid-19?”, forum diskusi ini menyajikan praktik belajar mengajar di lapangan dalam masa pandemi yang turut menyajikan solusi pengolahan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

Hadir sebagai narasumber adalah pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia seperti guru-guru dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara, serta perwakilan Dinas Pendidikan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Pembukaan disampaikan oleh Plt. Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, serta perwakilan Kedubes Australia di Jakarta; Selain itu, Pusat Penelitan Kebijakan (Puslitjak) Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud menyampaikan hasil survei terkait pembelajaran jarak jauh secara umum dan berbagai praktiknya; Guru Besar Pendidikan dari Unika Widya Mandala, Prof Anita Lie – yang merupakan penulis buku Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi menyampaikan pidato kunci (keynote speech) terkait solusi pengajaran keterampilan berpikir tingkat tinggi bagi para guru, ternasuk di masa pandemi saat ini. Temu Inovasi kali ini dipandu oleh Prof. Fasli Jalal, Rektor Universitas YARSI dan Amanda Witdarmono, Zenius Education.

Melalui program INOVASI, Pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan sejak tahun 2016 untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan pengajaran guru dan pembelajaran siswa, terutama di jenjang pendidikan dasar. Fokusnya adalah kualitas pembelajaran literasi, numerasi, dan keterampilan abad-21.  Dalam masa pandemi Covid-19, program kemitraan ini bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menjembatani kebijakan dan praktik-praktik di daerah, solusi lokal yang penerapannya dapat memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran.

Pendidikan di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 telah memaksa pemerintah menutup sekolah sejak Maret 2020. Pemerintah daerah merespon kebijakan ini dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun dalam pelaksanaanya di daerah, pendidikan di masa pandemi memiliki beberapa tantangan dalam sarana dan infrastruktur yang belum memadai seperti listrik dan internet.

Penyesuaian pada pendidikan di masa pandemi juga termasuk modifikasi kurikulum. Pemerintah mengeluarkan kebijakan Kurikulum Darurat yang merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada dasarnya, kurikulum darurat lebih fleksibel dengan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya. (Kemendikbud, Agustus 2020)

Meskipun menggunakan metode pembelajaran jarak jauh serta kurikulum darurat, para guru tetap berupaya menjaga esensi pendidikan yang berkualitas dalam masa pandemi. Hal ini selaras dengan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

“Guru tidak lagi diharuskan untuk memenuhi beban kerja 24 jam tatap muka dalam satu minggu sehingga guru dapat fokus memberikan pelajaran interaktif kepada siswa tanpa perlu mengejar pemenuhan jam,” (Mendikbud).

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2018, sekitar 40% anak Indonesia umur 15 tahun ke bawah masih memiliki kemampuan literasi dan matematika masih di bawah standar internasional. Asesmen tersebut menggunakan metode berpikir tingkat tinggi.[1]

Keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah suatu kemampuan dalam menggunakan dan mengolah proses berpikir di atas fakta. Seseorang yang mempunyai keterampilan bepikir tingkat tinggi tidak hanya mengetahui suatu fakta tertentu, tetapi juga menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan pengetahuan itu sendiri. (Anita Lie, 2020)

Menurut buku Mengembangkan Keterampilan Tingkat Tinggi (Anita Lie, 2020), peran guru sangat penting dalam menyediakan ruang bagi murid untuk menganalisa dan mampu mengevaluasi suatu masalah. Karakter guru yang dapat mengembangkan kreativitas murid diantaranya; memberi kesempatan pada murid untuk menyelesaikan tugasnya sendiri, memberikan kebebasan pada murid untuk berinisiatif dan berkreasi, terampil dalam menyajikan materi dan mengajukan pertanyaan, dll.

Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh dan Mengembangkan Keterampilan HOTS

Salah satu contoh praktik di lapangan kreativitas guru dalam pembelajaran jarak jauh dan mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi di masa pandemi oleh Pranika Dian Dini, Guru Kelas 1 SDN 008 Binai, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Ibu Dini mengakui sulitnya menuntaskan Kurikulum 2013 dalam masa pandemi karena tidak bisa bertemu dengan siswa secara intensif seperti sebelumnya. Kendala lain yang Ibu Dini temukan adalah bahwa orang tua juga masih belum bisa diandalkan sebagai pembimbing di rumah karena banyak dari mereka yang literasinya masih rendah bahkan buta huruf sehingga sulit membantu anak belajar dari rumah.

Saat pemerintah mengeluarkan kebijakan Kurikulum Darurat dengan penyederhanaan kompentensi dasar, Ibu Dini memodifikasi materi pembelajaran yang berfokus pada pengenalan huruf, kemampuan membaca, mengenal konsep bilangan, penjumlahan dan pengurangan sederhana.

Saya menemukan empat siswa saya mengalami perkembangan. Saat mereka masuk sekolah Juni lalu, kemampuan membaca mereka masih pada tahap pra membaca. Namun setelah tiba bulan mengikuti belajar dari rumah, mereka sudah memasuki tahap membaca kata. Bahkan kini sudah masuk tahap membaca pemahaman. Ia sudah mulai berlatih menuliskan ide atau gagasannya sendiri.”Pranika Dian Dini, Guru Kelas 1 SDN 008 Binai, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara

Di berbagai kesempatan Plt. Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno, menggarisbawahi bahwa penting untuk memastikan bagaimana guru-guru menjadi lebih percaya diri untuk mengajar lebih kreatif, supaya anak-anak lebih gemar belajar, rajin belajar, antusias, dan hasil belajarnya meningkat. Salah satu contohnya adalah pendekatan yang dilakukan melalui program kemitraan INOVASI yang mendorong solusi konteks lokal untuk mengatasi tantangan pembelajaran guru, yang tentunya berbeda-beda pula di setiap daerah. Pada pelaksanaannya, upaya untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran ini dilakukan berkolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, serta LSM, LPTK, dan organisasi kemasyarakatan yaitu Ma’arif NU dan Muhammadiyah.

 

[1] https://www.oecd.org/indonesia/pisa-2015-indonesia.htm

Rapat Ke-2 Tim Pembina (Steering Committee) Program INOVASI di Provinsi Jawa Timur

Surabaya, 18 Mei 2020 – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Wahid Wahyudi, M.T membuka Rapat Tim Pembina (Steering Committee Meeting) program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Jatim, Senin (18/05). Rapat yang digelar melalui moda daring (dalam jaringan) tersebut mengusung tema “Hasil Implementasi dan Praktik Baik INOVASI di Fase 1, serta Keberlanjutan Program di Fase 2”.

Wahid Wahyudi yang mewakili Gubernur Jawa Timur menyampaikan dalam sambutan pembuka apresiasinya pada pencapaian program INOVASI dan mendukung penyebarluasan program ke sekolah-sekolah yang belum dijangkau. “Saya berterima kasih karena INOVASI telah membantu meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, inklusi dan pembelajaran kelas rangkap di Jawa Timur, khususnya di 5 kabupaten kota / mitra,” kata Wahid.

Hadir pada kesempatan ini, Michelle Lowe selaku Counsellor – Human Development dari Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia. Dalam sambutannya, Michelle mengatakan bahwa Pemerintah Australia senantiasa mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia termasuk dalam situasi sulit seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Hadir pula perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Moch. Abduh, Ph.D. selaku Plt. Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Balitbang dan Perbukuan yang menyampaikan beberapa capaian program INOVASI Fase I yang diimplementasikan sejak 2018 hingga 2020. “Sekolah mitra INOVASI telah mencapai banyak kemajuan terutama pada pembelajaran siswa di kelas,” kata Moch. Abduh. Yang paling menonjol di Jawa Timur adalah adanya implementasi kelas rangkap sebagai solusi untuk daerah terpencil yang kekurangan guru yang diterapkan di Lereng Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo mampu menjadi solusi bagi sekolah yang kekurangan guru namun harus tetap menjaga kualitas dalam mengajar.

Sementara itu, Direktur INOVASI, Mark Heyward menyampaikan rencana keberlanjutan kemitraan untuk Fase II. Ia mengatakan Fase II akan berfokus mendukung perubahan pada kebijakan, sistem, dan praktik pendidikan yang sudah terbukti untuk mendukung hasil pembelajaran. Kendati masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Australia, Mark menekankan bahwa INOVASI akan bekerja dengan kabupaten yang memiliki komitmen tinggi.

Rapat Ke-4 Tim Pembina (Steering Committee) Program INOVASI di Provinsi NTT

Kupang, 15 Mei 2020 – Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Josef Nae Soi, M.M., membuka Rapat Tim Pembina (Steering Committee Meeting) program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), Jum’at (15/05) pagi ini. Rapat yang digelar melalui moda daring (dalam jaringan) tersebut mengusung tema “Menyongsong Kemitraan INOVASI Fase II Periode Juli 2020 – Desember 2023”.

Dari Kantor Gubenur Provinsi NTT, Wakil Gubernur Josef menyampaikan dalam sambutan pembuka apresiasinya pada pencapaian program INOVASI dan mendukung penyebarluasan program ke sekolah-sekolah yang belum dijangkau. “Saya berterima kasih karena INOVASI telah membantu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi dasar di empat kabupaten sedaratan Sumba,” kata Wakil Gubernur Josef, “Dan kita semua berkomitmen untuk menyebarluaskan keberhasilan di Sumba ke 18 kabupaten/kota lainnya.”

Hadir pada kesempatan ini, Michelle Lowe selaku CounsellorHuman Development dari Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia. Dalam sambutannya, Michelle mengatakan bahwa Pemerintah Australia senantiasa mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia termasuk dalam situasi sulit seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Talkshow P4L #3: Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dasar – Literasi, Numerasi dan Inklusi

Jakarta, 12 Mei 2020 – Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama  menyelenggarakan acara diskusi dan talkshow Kemitraan untuk Pembelajaran (Partnership for Learning) ke-3 yang digelar secara live streaming. Acara yang digelar dengan semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional mengangkat tema “Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dasar: Literasi, Numerasi dan Inklusi” dan bertujuan untuk berbagi hasil dan pencapaian program peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan INOVASI berkolaborasi dengan 21 LSM, LPTK dan organisasi kemasyarakatan untuk membantu Pemerintah Daerah di 20 kabupaten/kota di empat provinsi mitra INOVASI, yaitu provinsi NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Selain menjalankan berbagai program rintisan untuk meningkatkan pembelajaran literasi, numerasi, dan inklusi di empat provinsi, INOVASI pada tahun 2018 – 2019 juga telah menjalankan 34 program kemitraan dana hibah dengan  LSM, LPTK dan organisasi kemasyarakatan di Indonesia. Kemitraan tersebut telah memperluas cakupan program yang bertujuan membantu Pemerintah Daerah meningkatkan kualitas pembelajaran literasi, numerasi, dan inklusi. Upaya ini juga demi membangun kemitraan dan aliansi berkelanjutan antara sektor non-pemerintah, industri, dan pemerintah agar bersama-sama mengatasi tantangan pendidikan yang berdampak pada kualitas pembelajaran siswa kelas awal SD/MI. Mitra-mitra tersebut meliputi:

  1. CIS Timor
  2. Dompet Dhuafa Pendidikan
  3. Edukasi 101
  4. Forum Lingkar Pena
  5. Kolaborasi Literasi Bermakna
  6. Litara-OPOB
  7. Ma’arif NU
  8. Muhammadiyah
  9. Sahabat Pulau Indonesia
  10. Suluh Insan Lestari
  11. Taman Bacaan Pelangi
  12. Universitas BINUS
  13. Universitas Borneo Tarakan (UBT)
  14. UINSA Surabaya
  15. Universitas Mataram
  16. Universitas Nadhlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
  17. Universitas Negeri Makassar
  18. Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
  19. Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI)
  20. Yayasan Sulinama
  21. Yayasan Tunas Aksara

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara online melalui zoom video conference yang disiarkan secara live di YouTube INOVASI. Susunan acara meliputi sesi diskusi panel; sesi tanya jawab; video praktik baik kolaborasi dengan mitra untuk meningkatkan kualitas pendidikan terkait isu literasi, numerasi, dan pendidikan inklusi; serta sesi dialog interaktif dan tanggapan langsung pemerintah pusat dan daerah.

Acara ini menjadi kesempatan baik untuk berbagi pemikiran yang solutif dan inovatif terkait dengan tema yang diangkat. Hal ini karena dibutuhkan kolaborasi dan peran aktif berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh siswa Indonesia.

* * *

Temu INOVASI #9: Membangun Landasan Kemampuan Numerasi di Kelas Awal SD/MI

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) pada tanggal 19 Februari 2020 kembali menggelar forum Temu INOVASI ke-9 . Dengan tema “Membangun Landasan Kemampuan Numerasi Kelas Awal”, forum diskusi kali ini membahas berbagai upaya peningkatan kompetensi dasar siswa dalam menggunakan keterampilan matematika (numerasi).

Narasumber utama pada paruh awal forum diskusi pendidikan ini menghadirkan guru dari Provinsi mitra INOVASI di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta mitra pendidikan yang membagikan pengalaman mereka dalam menghadapi berbagai tingkatan kemampuan numerasi siswa. Mereka turut membagikan upaya dan praktik-praktik baik untuk meningkatkan kualitas numerasi siswa.

Dari pihak pengampu kebijakan, baik perwakilan pemerintah pusat maupun daerah, membicarakan bentuk dukungan dan kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya terkait kemampuan numerasi sebagai landasan pembelajaran siswa. Pihak pemerintah kali ini diwakili oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Pusat Asesmen dan Pembelajaran – Balitbang dan Perbukuan, dan Direktorat SMP Kemendikbud.

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar. Fokusnya adalah dalam hal kualitas pembelajaran literasi dan numerasi kelas awal, serta pendidikan inklusif. Salah satu upaya untuk mengatasi tantangan pendidikan yang terus dilakukan oleh INOVASI adalah menggali cara-cara terbaik di daerah, solusi lokal yang penerapannya dapat memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Kemampuan Bermatematika Siswa SD

‘Matematika adalah pelajaran paling sulit, bukan cuma sulit tapi juga tidak menarik dan membosankan’ – ini adalah kesan yang dulunya disampaikan oleh salah satu siswa penerima manfaat program rintisan numerasi dari Jawa Timur. Tidak hanya bagi siswa, guru pun banyak menerima keluhan dari siswa yang menggangap matematika sebagai momok yang mengerikan. Setidaknya itu kata Nurul Ainia, S.Pd, guru SD Negeri Ngampelsari, Sidoarjo, Jawa Timur.

Apabila kesan sulit, tidak menarik dan membosankan tersebut tidak diatasi, maka akan sulit bagi guru untuk meningkatkan kualitas kompetensi dasar para siswa dalam matematika. Padahal kompetensi tersebut menjadi salah satu dasar dari keterampilan berpikir atau bernalar tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS) seperti berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah[1].

Survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang dilaksanakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara, di mana kemampuan anak-anak Indonesia masih sangat perlu ditingkatkan lagi – untuk kategori matematika, anak Indonesia berada di peringkat 73 dengan skor rata-rata 379.

Kondisi tersebut pun didukung dengan hasil studi baseline INOVASI pada 2018 di empat provinsi mitra program (Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur) yang menunjukkan kemampuan numerasi siswa lebih rendah dari yang diharapkan. Rata-rata nilai tes pemahaman numerasi adalah 56,8 (dari 100). Siswa perempuan memperoleh nilai rata-rata 58,2 dan siswa laki-laki memiliki nilai rata-rata sedikit lebih rendah yaitu 55,4.

Tidak hanya siswa, para guru di kelas tiga dan empat SD/MI pun mengalami kesulitan dalam memahami dan mengajarkan konsep terkait pecahan dan pembagian. INOVASI juga menemukan bahwa konsep matematika seringkali diperkenalkan secara terburu-buru di kelas awal tanpa menghabiskan banyak waktu. Karena itu, guru perlu didorong untuk mengembangkan teknik yang memungkinkan anak untuk bereksplorasi, berani mengambil resiko, tidak menyerah dan mencoba lagi.

Tantangan Saat Ini

Persoalan utamanya kini adalah mencari cara terbaik untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, termasuk dalam hal numerasi. Di tataran kebijakan, kurikulum 2013 dan pedomannya memprioritaskan kemampuan penjumlahan namun masih perlu membangun pemahaman siswa tentang penerapannya di dunia nyata. Hasil baseline INOVASI menemukan rata-rata nilai tes pemahaman numerasi untuk domain ‘pengetahuan’ adalah 63 sedangkan untuk domain ‘penerapan’ adalah 38. Kurikulum matematika cukup tergolong terlalu cepat – siswa di kelas awal perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pemahaman angka yang kuat.

Diperlukan fleksibilitas penafsiran terhadap kurikulum nasional di kelas awal untuk numerasi yang memberikan peluang pembelajaran yang lebih komprehensif dan kongkret terhadap pemaknaan konsep matematika.

Dalam pengajaran matematika, guru seringkali merasa tidak percaya diri sehingga diperlukan penguatan kapasitas dan pelatihan pada masa pra-jabatan. Mereka perlu menggunakan metode pembelajaran yang berdiferensiasi (differentiated learning), dan metode asesmen di kelas guna melacak kemajuan siswa dan berbagai tantangan yang dihadapi dalam matematika, serta menggunakan hasil asesmen tersebut untuk menyusun rencana pelaksanaaan pembelajaran (RPP).

Upaya Solusi Konteks Lokal

INOVASI melaksanakan program rintisan numerasi kelas awal pada bulan Juli – Desember 2019 di dua provinsi mitra, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Implementasi program dilaksanakan INOVASI bersama pemerintah daerah yang bertujuan meningkatkan hasil pembelajaran numerasi siswa kelas awal melalui peningkatan mutu pengajaran; memperkuat pemahaman guru terhadap tahapan pengembangan konsep dan pendekatan yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar numerasi kelas awal; serta meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan media dan sumber daya untuk memperkuat konsep numerasi kelas awal.

Beberapa program tersebut juga dilaksanakan INOVASI berkolaborasi dengan LSM, LPTK, atau organisasi pendidikan/masyarakat. Seperti misalnya Edukasi 101 yang mengimplementasikan program Linumeratif (Literasi & Numerasi Inovatif) di Sumbawa dan Sumbawa Barat, NTB; Sahabat Pulau Indonesia (SPI) dengan program yang fokus pada peningkatan literasi dan numerasi di Bima, NTB; Universitas BINUS dengan program peningkatan kemampuan numerasi siswa kelas awal di Sumenep, Jawa Timur; serta UNUSA yang mengimplementasikan program ‘Bengkel Numerasi di Pasuruan, Jawa Timur.

Secara umum, INOVASI bekerja langsung dengan pemerintah daerah dalam melaksanakan pelatihan dengan model short-course dan pendampingan. Setiap pelatihan yang dilakukan di kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) dilakukan dengan fasilitasi para fasilitator daerah (Fasda), yang diikuti dengan sesi refleksi.

Berbagai upaya yang dilakukan INOVASI bekerja sama dengan banyak pihak telah menghasilkan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran numerasi siswa, yang aspek-aspek perubahannya dihadirkan dalam tabel berikut:

Table 2. Perubahan setelah implementasi program numerasi kelas awal INOVASI

Aspek setelah program numerasi kelas awal INOVASI Sebelum Program Sesudah Program
Presentase siswa yang menganggap matematika sebagai

pelajaran yang paling disukai

33% 47%
Nilai Rata-rata tes matematika 57 72
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Bilangan cacah 61 77
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Geometri dan Pengukuran 62 76
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain materi: Pecahan dan Desimal 51 64
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain kognitif: Aspek pengetahuan numerasi 63 78
Nilai Rata-rata matematika berdasar domain kognitif: Aspek penerapan numerasi 38 56

Sumber: Studi baseline dan endline, SIPPI – INOVASI, 2019

Hasil studi INOVASI menemukan bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi kemampuan numerasi siswa meningkat di Jawa Timur dan NTB. Faktor pertama adalah penerapan konsep pembelajaran MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) – yang pada praktiknya meminta siswa melakukan peragaan, menggali pendapat siswa, mendorong pertanyaan dari siswa dan mendorong pembelajaran kelompok; Kedua adalah perubahan fisik ruang kelas dengan bertambahnya alat peraga dan media belajar hasil kreasi guru –yang didapatkan baik dari kegiatan pelatihan dan pendampingan rutin oleh Fasda program INOVASI.

INOVASI pun melakukan kajian untuk menilai dampak yang muncul di dua kabupaten tersebut setelah program numerasi kelas awal diimplementasikan serta memetakan perubahan yang terjadi, yakni sebagai berikut:

  1. Guru dan kepala sekolah mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap. Guru lebih memahami pedagogi matematika, sementara kepala sekolah lebih memahami berbagai strategi pendampingan dalam pembelajaran, serta supervisi akademis dan manajerial.
  2. Kepala sekolah mengalami peningkatan dalam praktik pengelolaan sekolah, sehingga turut meningkatkan dukungan pada guru, pengalokasian anggaran lebih untuk alat peraga, dan meningkatkan kinerja guru.
  3. Karena dukungan kepala sekolah, guru mengalami perbaikan praktik mengajar dengan cara memusatkan pembelajaran pada anak dan melakukan pembelajaran secara aktif dan berkelompok.
  4. Ketika anggaran untuk alat peraga dinaikkan, maka kualitas fasilitas belajar pun mengalami peningkatan sehingga dapat menarik minat belajar siswa pada pelajaran matematika.
  5. Pada akhirnya, siswa mengalami peningkatan dalam hasil belajar numerasinya.

[1] Risalah Kebijakan INOVASI. November 2019.  https://www.inovasi.or.id/id/publication/risalah-kebijakan-numerasi-dasar-oktober-2019/

Temu INOVASI #8: Pendidikan Inklusif dan Pembelajaran Literasi Dasar yang Berkualitas

Jakarta, 5 Desember 2019 – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum Temu INOVASI yang diselenggarakan dalam semangat memperingati Hari Disabilitas Internasional (3 Desember) sekaligus Hari Guru Nasional (25 November). Mengusung tema “Pendidikan Inklusif dan Pembelajaran Literasi Dasar yang Berkualitas”, forum diskusi pendidikan ini menyajikan perspektif nasional dan daerah terkait pendidikan inklusif di Indonesia, dan upaya meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar.

Hadir sebagai narasumber adalah guru dan tenaga kependidikan, LSM lokal, LPTK, serta unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang pendidikan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT); di tingkat pusat perwakilan Kemendikbud yaitu Direktur Pembinaan Sekolah Dasar – Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus – Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, dan juga Program TASS. Selain itu, Pusat Penelitan Kebijakan (Puslitjak) Balitbang Kemendikbud menyampaikan studi terkait pendidikan inklusif di Indonesia.

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar. Fokusnya adalah dalam hal kualitas pembelajaran literasi dan numerasi kelas awal, serta pendidikan inklusif. Salah satu upaya untuk atasi tantangan pendidikan yang terus dilakukan oleh INOVASI adalah menggali cara-cara terbaik di daerah, solusi lokal yang penerapannya dapat memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Di berbagai kesempatan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, menggarisbawahi bahwa wujud nyata dari pelaksanaan program INOVASI nantinya akan tampak dalam proses belajar mengajar di kelas, bukan dalam bentuk mendikte, namun lebih dengan menggali potensi lokal sehingga dapat menemukan pola pengajaran yang cocok bagi anak. Dalam pelaksanaannya, INOVASI menggunakan pendekatan yang bertujuan untuk menemukan cara-cara yang pas sesuai konteks lokal dalam meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa – solusi yang sesuai dengan potensi lokal untuk mengatasi tantangan pembelajaran di daerah.

* * *

 

Jawa Timur: Rapat Koordinasi Komite Pengarah Program INOVASI

Implementasi program di Jawa Timur dalam Meningkatkan Mutu Belajar Siswa

Surabaya, 4 Desember 2019 – Rapat Koordinasi Komite Pengarah Program (steering committee) Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Provinsi Jawa Timur hari ini diselengarakan di Gedung Bina Loka, Pemerintah Provinsi Jatim untuk membahas perkembangan, hasil dan dampak dari implementasi program INOVASI selama tahun 2019. Berbagai program rintisan INOVASI sejak tahun 2018, telah diimplementasikan di 5 (lima) kabupaten / kota di Jawa Timur sebagai upaya meningkatkan mutu pembelajaran siswa kelas awal di Jawa Timur, terutama dalam hal pembelajaran literasi dan numerasi (calistung) di kelas awal, pembelajaran kelas rangkap (multigrade), kepemimpinan yang mendukung pembelajaran (leadership), dan pendidikan inklusif.

Untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa jenjang pendidikan dasar di Provinsi Jawa Timur, maka inovasi pembelajaran oleh guru penting dilakukan guna meningkatkan hasil belajar literasi dan numerasi (calistung) siswa yang tergolong masih di bawah rata-rata nasional. Salah satu strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengimplementasikan program INOVASI di 5 kabupaten / kota, yakni: Kab Sumenep, Kab Sidoarjo, Kab Pasuruan, Kab Probolinggo, dan Kota Batu. INOVASI sendiri merupakan program kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia yang berfokus menemukan cara-cara yang bisa meningkatkan hasil belajar literasi dan numerasi siswa. Kolaborasi berbagai pihak melalui pelaksanaan program INOVASI di 5 kabupaten / kota telah menghasilkan sejumlah perubahan yang menjanjikan, baik itu di tingkat sekolah maupun kabupaten.

Rapat koordinasi untuk membahas perkembangan program secara lebih lanjut ini rencananya dipimpin dan dibuka oleh Gubernur Jawa Timur, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan pendidikan di Jawa Timur yaitu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur,  Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, jajaran pemerintahan dan kelembagaan tingkat provinsi Jawa Timur, para Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dari 10 kabupaten kota, Bappeda dari 10 kabupaten / kota, Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan tim INOVASI. INOVASI juga mengundang mitra kerjasama INOVASI dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan yakni: Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Universitas Nahdatul Ulama Surabaya (UNUSA), Universitas Bina Nusantara Jakarta (BINUS), dan LSM Kolaborasi Literasi Bermakna. INOVASI menggandeng 2 organisasi Islam besar di Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas sekolah Islam di Indonesia yakni: LP Ma’arif NU dan Muhammadiyah. Kegiatan ini dihadiri oleh Moch. Abduh, Ph.D. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan Ibu Dra Siti Sakdiyah M.Pd, Kasubdid Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Adhfal (RA), Kementerian Agama.

Program Director INOVASI, Mark Heyward, Ph.D, mengatakan, “Di tahun 2019 ini, berbagai program rintisan INOVASI telah dan sedang dilaksanakan di Jawa Timur, termasuk yang dilaksanakan oleh berbagai LSM, organisasi Islam, dan LPTK mitra. Program-program tersebut menyasar berbagai program pendidikan seperti literasi, numerasi, leadership, pembelajaran kelas rangkap, dan pendidikan inklusi yang memang menjadi prioritas yang perlu diatasi di masing-masing kabupaten / kota. Penting bagi kita menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Kami pun telah melihat perubahan positif setelah program diimplementasikan, termasuk dalam hal peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar pada guru di sekolah-sekolah dampingan INOVASI.”

Sebagai program kemitraan di bidang pendidikan, INOVASI berupaya mendorong peningkatan dan akselerasi mutu pendidikan di Indonesia, seperti yang selama ini dilaksanakan di Jawa Timur. Atas kerja sama dan dukungan mitra-mitra INOVASI, termasuk para pemangku kebijakan tingkat pusat serta provinsi dan kabupaten/kota, pelaksanaan program pun dapat terlaksana dengan baik. Dukungan pemangku kepentingan pemerintah pun nampak dari skala kebijakan hingga penganggaran.

Rapat koordinasi ini juga digunakan untuk melakukan evaluasi dalam rangka mencapai suatu kerangka keberlanjutan program, selain juga menjadi wadah diseminasi praktik-praktik baik di tingkat kelas, sekolah, maupun gugus yang telah terbukti memberi dampak positif dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan – terutama dalam hal pembelajaran literasi, numerasi, dan inklusif.

“Program INOVASI fase pertama di Jawa Timur telah berlangsung sejak 2018. Telah banyak capaian di bidang literasi, numerasi, leadership, pembelajaran kelas rangkap, dan pendidikan inklusi sebagai fokus utama program. Sebagian di antaranya telah ditindaklanjuti secara mandiri oleh pemerintah kabupaten dan provinsi. Melalui SC meeting ini, makna strategis yang ingin dicapai adalah pentingnya upaya meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi antar kabupaten dan provinsi dalam rangka mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh anak didik di Jawa Timur,” ujar Silvana Erlina, Provincial Manager INOVASI di Jawa Timur.

Sekilas Tentang INOVASI

Inovasi untuk Anak-anak Sekolah Indonesia (INOVASI) adalah program kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar. Bekerja secara langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama, INOVASI berupaya memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa di berbagai sekolah di seluruh Indonesia, terutama dalam hal hasil pembelajaran literasi dan numerasi. Pelaksanaan program ini dilakukan di 17 kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Di Jawa Timur, Program INOVASI bekerja di 5 (lima) kabupaten / kota yakni: Kab Sumenep, Kab Sidoarjo, Kab Pasuruan, Kab Probolinggo, dan Kota Batu.

Untuk informasi lebih lanjut tentang program INOVASI, kunjungi situs webnya di www.inovasi.or.id atau kunjungi halaman Facebook kami: https://facebook.com/InovasiPendidikanAIP/. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Tim Komunikasi INOVASI Provinsi JAWA TIMUR, atau kunjungi website, facebook, dan Youtube INOVASI melalui: www.inovasi.or.id, facebook Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia, dan youtube INOVASI Pendidikan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

 

Dian Kusuma Dewi

Communication Officer Program INOVASI Jatim

Phone 08111502034, email: dian.dewi@thepalladiumgroup.com

 

Stephanie Carter

Communications Manager, INOVASI

Phone 0811 870 7970, email: stephanie.carter@thepalladiumgroup.com

 

***

 

 

Workshop dan Pameran Hasil Karya Literasi Dipamerkan di Temu INOVASI Kabupaten Sumenep

Sumenep, 30 November 2019 – Untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar khususnya di Kabupaten Sumenep, Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menggelar kegiatan Temu INOVASI Pendidikan di Kabupaten Sumenep yang diselenggarakan di Aula PT Garam, Sumenep.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi terutama di kelas awal. Dihadiri oleh 150 undangan, selama satu hari kegiatan ini diisi dengan pameran karya literasi dan numerasi dari para guru, kepala sekolah, hasil karya siswa, dan workshop pembuatan bigbook (buku besar).

Program INOVASI di Kabupaten Sumenep diawali dengan studi pemetaan INOVASI pada tahun 2017. Hasil dari studi tersebut menemukan potensi sekolah-sekolah di Kabupaten Sumenep yang sudah menerapkan gerakan literasi yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di sekolah maupun komunitas masyarakat.

Pada September 2018, telah disepakati bahwa program rintisan Kabupaten Sumenep berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi di kelas awal, yang juga bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara.

Kegiatan ini telah berlangsung di Sumenep selama setahun dengan mendampingi 41 sekolah (SD dan MI) dan membentuk 31 fasilitator daerah (fasda) yang berkompeten dalam bidang literasi dan numerasi.

Menurut Silvana Erlina Provincial Manager INOVASI Jatim, potensi praktik menjanjikan yang sudah dilakukan oleh Kabupaten Sumenep merupakan contoh praktik menjanjikan yang sangat layak diadopsi tidak hanya untuk skala kab / kota, namun juga skala nasional. “Hasil yang dicapai oleh guru dan pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan khususnya dalam kegiatan KKG, memberikan dampak yang positif dan menghasilkan solusi lokal dalam rangka menyelesaikan permasalahan pendidikan di Kabupaten Sumenep, salah satunya dalam bidang literasi dan numerasi,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, Bupati Sumenep KH. Abuya Busyro Karim, M.Si memberikan dukungan dalam penerapan program literasi dan numerasi di Kabupaten Sumenep. Dukungan ini diwujudkan dengan adanya alokasi dana APBD untuk penguatan kapasitas pendidik dalam bidang literasi dan numerasi.

 

Tentang Program INOVASI

 Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan program kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia di bidang peningkatan mutu pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Bekerja langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), program INOVASI berupaya memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah-sekolah yang ada di berbagai kabupaten di Indonesia, terutama dalam hal kemampuan literasi dan numerasi. Implementasi program dilaksanakan di 17 kabupaten yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Implementasi di Jawa Timur diawali dengan pelaksanaan riset dan studi pemetaan pada akhir tahun 2017 yang dilakukan dalam rangka menemukan inovasi pembelajaran jenjang pendidikan dasar di Jawa Timur. Penelitian tersebut menemukan 165 praktik menjanjikan dalam bidang literasi, numerasi dan inklusi. Praktik-praktik menjanjikan tersebut kemudian dipetakan kembali menjadi 27 praktik paling menjanjikan yang kemudian dipamerkan di acara Temu INOVASI Provinsi Jawa Timur pada tanggal 26 April 2018 yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, S.H, M.Hum. Selanjutnya, pada bulan Mei 2018 terpilihlah lima kabupaten/kota mitra program INOVASI, yaitu Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep.

Ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana INOVASI bekerja? Kunjungi website www.inovasi.or.id dan laman Facebook https://id-id.facebook.com/InovasiPendidikanAIP/

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

Dian Kusuma Dewi

Communication Officer Program INOVASI Jatim

Phone 08111502034, email: dian.dewi@thepalladiumgroup.com

 

***

 

Hasil studi implementasi program INOVASI di NTB, NTT, Kaltara dan Jatim: Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Sekolah dan Hasil Belajar Siswa

Selamat Hari Guru Nasional 2019!

Jakarta, 25 November 2019 – Pendidikan dan peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu fokus pemerintahan Jokowi-Ma’ruf dalam lima tahun ke depan. Saat ini, salah satu tantangan di dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya kemampuan literasi dasar di mana anak-anak masih tertinggal dari negara-negara tetangganya di wilayah ASEAN, dan hasilnya nampak dalam studi internasional yang menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia (PISA, 2015[1]; PIRLS, 2011[2]). Meski demikian, program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di akhir tahun 2019 mencatat bahwa dengan model pelatihan pedagogi yang tepat, kompetensi guru bisa menjadi lebih baik dan kemampuan literasi siswa terbukti bisa meningkat. Hal ini adalah berdasarkan studi akhir pelaksanaan program peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan INOVASI di Provinsi NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Pembangunan SDM tentu mengarah pada angkatan kerja dengan bekal pendidikan dan kompetensi yang cukup untuk menghadapi dunia kerja. Untuk itu Presiden mengatakan bahwa kemampuan dasar anak-anak Indonesia harus terus dibangun, dan kemampuan literasi, matematika, dan sains akan menjadi pijakan bagi peningkatan pengetahuan dan keterampilan anak di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Fondasi untuk semua pembelajaran, yang menjadi prasyarat kecakapan hidup abad ke-21, adalah kemampuan literasi.

Secara sederhana, tidak mungkin mempersiapkan anak-anak muda untuk menghadapi dunia kerja yang ada saat ini dan di masa mendatang, apabila mereka tidak lebih dahulu mendapatkan dasar yang kuat di bidang literasi dan numerasi di kelas-kelas awal SD yang menjadi jenjang awal dari pendidikan dasar sembilan tahun. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan literasi yang baik akan dengan cepat tertinggal dari teman-temannya di seluruh bidang pembelajaran, dan ketimpangan ini semakin melebar seiring waktu. Dalam proses pembelajaran di kelas, peran guru sangat besar dalam pencapaian prestasi siswanya.

Indonesia dengan keragaman geografis dan kekayaan budaya tentu menghadapi tantangan pendidikan yang berbeda-beda di tiap daerah. INOVASI, sebuah program kemitraan pemerintah Australia dan Indonesia sejak tahun 2016, berupaya memahami cara-cara yang berhasil maupun yang tidak berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, di 17 kabupaten yang ada di empat provinsi. Pada periode September 2018-Juli 2019, sebanyak 54 program dengan berbagai tema intervensi dilaksanakan, yaitu literasi kelas awal, kepemimpinan sekolah, kelas rangkap, transisi bahasa ibu di kelas, serta pendidikan inklusif-disabilitas dan keterlibatan masyarakat.

Berdasarkan hasil pelaksanaan program, INOVASI mencatat beberapa hal terkait kualitas pengajaran dan hasil pembelajaran:

  • Tiga masalah utama yang berkontribusi terhadap rendahnya hasil belajar siswa untuk literasi, yaitu: (1) Kurikulum tidak memuat aspek mengajar membaca untuk siswa kelas awal, dengan asumsi anak yang terdaftar di SD sudah bisa membaca; (2) Kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengajarkan literasi di kelas awal; dan (3) Terbatasnya akses ke bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan usia anak, terutama di daerah terpencil.

 

  • Namun demikian, dengan konsep dan model pelatihan pedagogi yang tepat, kemampuan literasi siswa terbukti bisa meningkat. Tren tersebut ditemukan terjadi di NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Pada prinsipnya guru menerapkan pengetahuan tentang teknik-teknik mengajarkan literasi di kelas awal, diantaranya menggunakan buku besar, mengajarkan kesadaran fonologis, membaca kata dan memahami bacaan. Studi akhir menemukan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, diantaranya: (1) Guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan konsep yang diajarkan; (2) Guru menggunakan pendekatan yang berfokus pada anak; (3) Kelas memiliki pojok baca; dan (4) Kelas memajang media belajar seperti alat peraga, poster, peta, atau sumber belajar lainnya yang membuat anak selalu terpapar pada media literasi. Proses pembelajaran yang lebih baik ini berkontribusi pada meningkatnya kemampuan literasi siswa.

 

  • Hasil studi akhir INOVASI terhadap implementasi program tahap pertama, yaitu program yang dimulai di tahun 2018, menunjukkan secara jelas peningkatan persentase jumlah siswa yang lulus tes literasi dasar, di empat provinsi mitra INOVASI – yaitu 21 point di tingkat nasional, 33 point di NTT, 33 point di Kaltara, 20 point di NTB dan 12 point di Jawa Timur. Secara proporsional, peningkatan adalah 37% di tingkat nasional, 150% di NTT, 64% di Kaltara, 33% di NTB dan 15% di Jatim.

  • Kemampuan literasi siswa terkait aspek pemahaman di keempat provinsi masih perlu ditingkatkan, namun demikian, hasil studi akhir INOVASI juga menemukan peningkatan. Skor rata-rata meningkat – yaitu 13.3 point di tingkat nasional, 25.2 point di NTT, 16.9 point di Kaltara, 17.1 point di NTB dan 5.6 point di Jatim.

INOVASI mencatat bahwa meskipun kemampuan literasi dasar siswa telah meningkat, diperlukan upaya lebih dari meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa. Untuk itu, di tahap kedua, INOVASI memberikan pelatihan tentang metode-metode pengajaran yang lebih baik, seperti melakukan pemetaan kemampuan literasi siswa, menerapkan pembelajaran berbeda (differentiated learning),  membaca terbimbing dan meningkatkan pemahaman bacaan atau ketrampilan yang mengarah kepada pemahaman dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), dan didukung dengan akses ke buku bacaan yang sesuai.

Hasil studi akhir menunjukkan bahwa intervensi yang terintegrasi dan melibatkan berbagai pihak bisa memberikan hasil yang lebih baik. Di Bulungan, Kalimantan Utara, program INOVASI diperkaya dengan kegiatan lainnya seperti menjalin kerja sama dengan pihak swasta, kegiatan mentoring intensif, penyediaan buku bacaan, pemanfaatan buku digital, dan bekerja sama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Hasilnya persentase siswa yang lulus tes literasi dasar di kabupaten Bulungan, yaitu meningkat dari 57% ke 94%, melampaui persentase kelulusan di semua kabupaten dan provinsi lainnya.

Rekomendasi untuk di tingkat pusat:Peningkatan pendidikan dan penguatan kemampuan literasi perlu dilakukan dari hulu ke hilir. Beberapa rekomendasi INOVASI yang dapat dilaksanakan di tingkat pusat dan daerah adalah:

  1. Menyusun panduan kurikulum pelatihan sekolah dasar (PGSD, S-1, PPG) untuk menetapkan metode sistematis guru dalam mengajarkan membaca dan mendukung literasi di sekolah dasar
  2. Meningkatkan kompetensi guru untuk mengajar membaca secara sistematis dan untuk mendorong budaya membaca
  3. Meningkatkan kapasitas guru terkait pengajaran literasi dan numerasi melalui KKG
  4. Meninjau buku pelajaran kelas awal
  5. Meningkatkan akses ke buku bacaan yang sesuai dengan memperluas daftar dan pilihan buku bacaan siswa, dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota dalam mengevaluasi kebutuhan buku dan memastikan ketersediaan, sesuai dengan konteks kedaerahan masing-masing.

Rekomendasi untuk di tingkat daerah:

  1. Pemerintah provinsi mendukung dan memfasilitasi kegiatan literasi di kabupaten/kota
  2. Pemerintah kabupaten/kota secara rutin membuat penilaian kemampuan membaca siswa kelas awal dan melaporkan hasilna kepada orang tua dan instansi terkait
  3. Pemerintah kabupaten/kota menjalankan program literasi bagi siswa sekolah dasar dan menyediakan anggaran rutin
  4. Pemerintah daerah bermitra dengan lembaga-lembaga non pemerintah terkait dengan penyediaan buku, baik cetak maupun digital, dan untuk memberikan pelatihan kepada guru, membangun perpustakaan sekolah yang berkualitas dan mendukung Taman Bacaan Masyarakat

* * *

Tentang  INOVASI

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) adalah program kemitraan pendidikan Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa – khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi, baik itu di kelas maupun di sekolah. Bekerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, INOVASI menjalin kemitraan dengan 17 kabupaten/kota yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program peningkatan mutu pendidikan ini berjalan sejak tahun 2016 hingga tahun 2020 dan dikelola oleh Palladium atas nama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Tim Komunikasi INOVASI, atau kunjungi website, facebook, dan Youtube INOVASI melalui: www.inovasi.or.id, facebook Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia, dan youtube INOVASI Pendidikan

Annisaa Rachmawati

Communications Specialist

INOVASI

annisaa.rachmawati@thepalladiumgroup.com

+62 811 8855 184

Stephanie Carter

Communications Manager

INOVASI

stephanie.carter@thepalladiumgroup.com

+62 811 870 7970

 

[1] https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf

[2] https://timssandpirls.bc.edu/pirls2011/international-results-pirls.html

Kunjungan Ma’arif NU, Kedubes Australia, dan INOVASI ke Sidoarjo dan Pasuruan

Pemantauan bersama atas pelaksanaan program peningkatan mutu pembelajaran yang dilaksanakan di Kabupaten Sidoarjo dan Pasuruan, Jawa Timur

 

 Sidoarjo dan Pasuruan, 18 – 19 Oktober 2019 – Selama dua hari ini, perwakilan dari Ma’arif NU, Kedutaan Besar Australia di Jakarta, serta Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) melakukan kunjungan ke kabupaten Sidoarjo dan Pasuruan, Jawa Timur. Pada kesempatan tersebut, kunjungan dilakukan untuk melihat perkembangan program INOVASI di sekolah-sekolah pelaksana program yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, serta mendengar langsung dari para guru tentang pengalaman dan perubahan yang terjadi setelah mengikuti program.

INOVASI merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar siswa, terutama dalam hal pembelajaran literasi dan numerasi kelas awal. Sejak akhir tahun 2018, INOVASI bersama organisasi Islam terkemuka Ma’arif NU menjalin kemitraan dalam rangka menyebarluaskan dan juga terus melaksanakan berbagai kegiatan yang terbukti mampu memperkuat mutu pendidikan dan meningkatkan hasil belajar siswa.

Pada awal tahun ini, Ma’arif NU mulai mengimplementasikan program Literasi Kelas Awal di Jawa Timur melalui program kemitraan dan hibah INOVASI. Kerjasama ini secara resmi diluncurkan pada tanggal 25 Mei 2019 di Surabaya. Melalui program kemitraan dan hibah ini, Ma’arif NU menerapkan berbagai pendekatan untuk meningkatkan hasil pembelajaran literasi siswa kelas awal di 30 sekolah yang tersebar di kabupaten Sidoarjo, Sumenep dan Pasuruan.

Bekerja dengan siswa, guru, kepala sekolah dan komite sekolah, program rintisan ini berupaya untuk mengatasi tantangan pembelajaran, termasuk tentang pemahaman guru terkait pembelajaran literasi di kelas awal; keterampilan guru mengelola kelas; variasi penggunaan media; serta upaya-upaya untuk meningkatan hasil belajar literasi siswa. Program ini juga bertujuan untuk memperkuat dukungan orangtua dan kepala sekolah terhadap pengajaran dan pembelajaran yang bermutu, termasuk penyediaan alat dan bahan belajar yang efektif.

Setelah setahun pelaksanaan program, hasil yang positif dan kemajuan di sekolah-sekolah mitra Ma’arif NU di empat kabupaten telah nampak. Selain itu, ada banyak praktik-praktik peningkatan hasil pembelajaran siswa yang sudah diterapkan di kelas.

“Kemitraan antara INOVASI dan Ma’arif NU adalah upaya yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia,” kata Kyai Zaenal Arifin Junaedi, Ketua LP Maarif NU.

Lebih lanjut, Michelle Lowe, Konselor bidang Pembangunan Manusia, Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengatakan, “Kemitraan INOVASI dengan Ma’arif NU ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam di Jawa Timur, khususnya di sekolah-sekolah Ma’arif NU. Setelah satu tahun pelaksanaan program, hasil positif dan kemajuan di madrasah mitra Ma’arif NU di ketiga kabupaten mulai terlihat. Beberapa praktik yang menjanjikan pun telah dikembangkan, dan kami berkesempatan untuk mengamati langsung selama kunjungan pemantauan ini.”

Sekilas Tentang INOVASI

 INOVASI ( INOVASI untuk Anak-anak Sekolah Indonesia) adalah program kemitraan pendidikan Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa – terutama yang berkatan dengan keterampilan literasi dan numerasi, baik di kelas maupun di sekolah. Bekerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, INOVASI telah membangun kemitraan dengan 17 kabupaten yang tersebar di empat provinsi, termasuk Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program ini akan berjalan dari 2016 – 2020 dan dikelola oleh Palladium atas nama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT).

Untuk informasi lebih lanjut tentang program INOVASI, kunjungi situs webnya di www.inovasi.or.id atau kunjungi halaman Facebook kami: https://facebook.com/InovasiPendidikanAIP/.

 

 Tentang Ma’arif NU

Ma’arif NU adalah salah satu asosiasi Islam terbesar dan terkemuka di Indonesia, mengelola sejumlah besar sekolah dasar di bawah Kementerian Agama. Dengan kehadiran yang signifikan dalam sektor pendidikan, Ma’arif NU mempromosikan budaya lokal dan toleransi beragama di seluruh Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

 

Dian Kusuma Dewi

Communication Officer, INOVASI Provinsi Jawa Timur

Phone 08111502034, email: dian.dewi@thepalladiumgroup.com

 Stephanie Carter

Communications Manager, INOVASI

Phone 0811 870 7970, email: stephanie.carter@thepalladiumgroup.com

***