Solusi lokal untuk masalah lokal membantu meningkatkan pembelajaran guru literasi dasar di Bima

Kemampuan literasi adalah keterampilan kunci bagi siswa Indonesia, yang mendukung banyak bidang pengetahuan dan kompetensi lainnya. Tanpa pemahaman yang baik tentang membaca dan membaca di kelas awal, banyak siswa yang tidak akan mencapai potensi belajar mereka sepenuhnya. INOVASI, program kemitraan Australia-Indonesia, menemukan cara untuk meningkatkan hasil belajar melek huruf (dan berhitung). Ini termasuk fokus utama dalam membantu guru untuk mengajar dengan lebih baik – yang berarti bahwa siswa pada gilirannya akan belajar lebih baik di kelas.

Berdasarkan pengalaman program hingga saat ini, INOVASI telah menemukan bahwa pengembangan profesional jangka pendek dan menengah yang disediakan dalam kelompok kerja guru dapat membuat perbedaan yang signifikan. Sebagai contoh, setelah berpartisipasi dalam program rintisan Guru BAIK (dijalankan di NTB sejak 2017), para guru merasa percaya diri untuk secara mandiri memecahkan masalah pembelajaran (skornya adalah 4,1 dari 5). Skor tes guru meningkat (a) dari 35 menjadi 80 untuk mengidentifikasi kesulitan belajar; (b) dari 61 menjadi 76 untuk mengidentifikasi akar penyebab kesulitan belajar; (c) dari 10 menjadi 28 untuk mengembangkan skenario pembelajaran; dan dari 25 menjadi 65 untuk mengembangkan penilaian sumatif dan formatif. Yang penting, nilai tes untuk anak-anak kelas awal meningkat sekitar 55% untuk matematika, dan sekitar 20% untuk Bahasa Indonesia. Walalpun perbaikan dalam mengembangkan skenario pembelajaran masih sangat rendah, pemantauan program rintisan menemukan bahwa guru mengembangkan skenario pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar tertentu dan mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Belajar dari pengalaman ini, Pelatihan Pembelajaran Literasi Dasar dilakukan untuk mendukung pengembangan guru di bidang literasi dasar.

Pelatihan Pembelajaran Literasi Dasar ini sedang berlangsung di banyak kabupaten mitra INOVASI, termasuk Bima. Untuk meningkatkan keterampilan mengajar dalam literasi tingkat awal, fasilitator daerah INOVASI menjadi mentor dan melatih guru di tujuh bidang kompetensi utama (atau disebut juga unit). Pelatihan Pembelajaran Literasi Dasar dijalankan sistem kelompok kerja guru (KKG) di lima kecamatan termasuk Woha, Wawo, Belo, Bolo dan Langgudu. Mengingat masalah Bima adalah transisi dari bahasa ibu (dalam kasus Bima, bahasa Mbojo) untuk menggunakan Bahasa Indonesia di kelas, program rintisan akan memasukkan strategi transisi utama untuk guru yang diberi nama Transisi bahasa Ibu ke bahasa Indonesia di kelas awal (GEMBIRA).

Sepanjang minggu pertama bulan Oktober, Program INOVASI di Kabupaten Bima telah membuka rangkaian pelatihan di setiap kecamatan mitra, dilanjutkan dengan pelatihan unit pertama yaitu mengenal apa itu literasi. Pelatihan disempurnakan dengan pendampingan pada guru-guru yang terlibat pelatihan dari 20 sekolah mitra di lima kecamatan tersebut. Pelatihan dibawakan oleh fasilitator daerah yang telah dilatih untuk memfasilitasi Pelatihan Pembelajaran Literasi Dasar di setiap gugus dan juga bertanggung jawab pada kegiatan pendampingan. Pendampingan dilakukan untuk mengamati dan mengevaluasi peserta pelatihan dalam menerapkan unit literasi dilatihkan.

Sebagai bagian dari upaya pelatihan awal, pre-test juga dilakukan untuk menilai tingkat literasi kelas awal saat ini. Di kecamatan Woha, pre-test dilakukan di SD Sari Kalampa di Desa Kalampa.

“Ini dilakukan sebagai upaya untuk mengukur kemampuan siswa dan menentukan tindakan selanjutnya, guru juga dapat mengevaluasi dan meningkatkan kreativitas mengajar untuk meningkatkan kemampuan baca siswa di kelas dasar,” jelas Ramli, fasilitator daerah yang melakukan pre-test.

Di Bima, tes awal ini dilakukan dengan sepuluh siswa di sekolah mitra. Hasil indikatif menunjukkan bahwa hanya 20% siswa dapat membaca selama waktu yang ditentukan. Hasilnya serupa untuk siswa di kelas satu hingga tiga. Hasil ini akan menjadi kunci untuk melacak dan memantau kemajuan siswa selama uji coba. Kegiatan post-test akan dilakukan setelahnya.

“Hasil observasi kami sebagai fasda terkait persiapan guru dalam pembelajaran di kelas dan menerapkan kelas yang literat menjadi catatan untuk dibenahi dan dibahas bersama sebagai sasaran pendampingan berikutnya,” jelas Ramli.

Program rintisan literasi kelas awal di Bima, dengan fokus pada strategi transisi bahasa ibu, akan berlanjut hingga paruh pertama tahun 2019.

Solusi lokal untuk masalah lokal membantu meningkatkan pembelajaran guru literasi dasar di Bima