Sebuah sekolah dasar menginspirasi budaya membaca di Bulungan

Mendapatkan penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Presiden Joko Widodo tahun 2017, tidak membuat Ibu Martiana, Kepala Sekolah SDN 006 Tanjung Selor berhenti berinovasi. Kini Ia menyulap SDN 006 Tanjung Selor, Bulungan menjadi sekolah literasi.

Sekolah ini lebih tepat disebut taman. Beragam bunga tumbuh indah di seluruh sudut sekolah. Bahkan di salah satu kelas memiliki kolam ikan. Semua keindahan ini membuat SDN 006 Tanjung Selor pantas diganjar Piala Adiwiyata Mandiri, sebuah penghargaan tertinggi bagi sekolah yang giat membudayakan lingkungan hidup.

Selain lingkungannya yang bersih dan taman bunganya yang indah, ada yang baru di sekolah ini sejak sebulan lalu. Setiap kelas sekarang memiliki sudut baca. Tempat yang paling favorit di sekolah ini. “Saya selalu ke sudut baca setiap hari,” kata Aqilla Fathiyah, salah satu siswa di SDN 006 Tanjung Selor.

Aqilla senang dengan adanya sudut baca. Ia bisa membaca berbagai macam buku sebelum kelas dimulai. Aqilla paling suka membaca buku cerita. Ia mengatakan, sebelum ada sudut baca, siswa hanya duduk dan bermain-main sebelum jam belajar dimulai. Setelah ada sudut baca, siswa bisa membaca buku terlebih dahulu. Bahkan mereka diberi 15 menit waktu membaca khusus sebelum jam belajar. Aqilla berharap jumlah buku dongeng dan cerita rakyat bisa lebih banyak lagi.

Ibu Martiana mengatakan, sudut baca hanya satu dari delapan kegiatan literasi di sekolahnya. Kegiatan itu berupa:

  1. 15 menit membaca. Setiap hari sebelum jam pembelajaran, siswa dan guru melakukan kegiatan membaca bersama selama 15 menit. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam kelas. Anak bebas membaca buku apa saja.
  2. Literasi Bersama. Siswa dan guru membaca bersama selama 45 menit di luar kelas. Anak boleh duduk di mana saja selama ia merasa nyaman. Kegiatan ini dibagi menjadi dua:
  • Siswa kelas 1-3 yang belum bisa membaca, maka guru akan membacakan satu buku cerita bagi mereka.
  • Siswa kelas 4-6 setelah selesai membaca, maka anak diminta untuk mempresentasikan isi buku.
  1. Sudut baca. Kegiatan ini bertujuan mendekatkan buku kepada anak. Sudut baca dibuat dari pipa bekas dan diisi buku. Bukunya sendiri dipasok dari perpustakaan sekolah, bantuan perpustakaan daerah Bulungan, dan bantuan dari orangtua. Anak juga membaca sendiri buku yang ada di rumahnya.
  2. Buku catatan. Setiap anak memiliki buku catatan hasil membaca buku. Buku ini memberikan informasi tentang buku apa yang dibaca anak, kapan, sampai halaman berapa dan ringkasannya.
  3. Sudut baca di luar kelas. Sudut baca ini diletakkan pada titik-titik khusus seperti di bawah pohon rindang, dinding luar kelas, dan gazebo. Tujuannya agar orangtua bisa membaca buku sambil menunggu anak pulang sekolah. Begitu juga saat anak menunggu jemputan orangtua, mereka bisa membaca buku.
  4. Buku mini. Buku mini merupakan media tempat siswa menuliskan puisi, karangan dan hasil pembelajaran.
  5. Alat peraga. Guru-guru kelas awal membuat alat peraga pembelajaran untuk membantu siswa membaca lebih baik.
  6. Kunjungan perpustakaan. Setiap sekali seminggu, siswa melakukan kunjungan ke perpustakaan sekolah selama 35 menit. Tujuan kunjungan ini agar anak terbiasa membaca buku dan berkunjung ke perpustakaan.

 

Kepemimpinan

Ibu Martiana mengatakan bahwa program Adiwiyata harus sejalan dengan program akademik. Lingkungan yang nyaman membuat anak betah belajar. Hal itu perlu diimbangi dengan layanan akademik yang baik. Itu sebabnya Ibu Martiana tidak berhenti berinovasi, walaupun sekolahnya sudah mendapatkan penghargaan dari Presiden Jokowi. “Lingkungan yang nyaman ditambah pembelajaran yang bermutu akan menghasilkan siswa yang berkualitas,” ujar ibu dua anak ini.

Perubahan di sekolah ini terbilang cepat. Dalam beberapa bulan, program literasi sudah berjalan. Bahkan partisipasi orangtua juga nyata. Tidak jarang sudut baca di kelas, dilengkapi dengan boneka dan bantal yang nyaman. Itu semua dibawa anak dari rumahnya sendiri.

Ia mengatakan keteladan adalah kunci yang bisa membuat adanya perubahan secepat ini. “Saya harus mencontohkannya lebih dahulu, baru setelah itu meminta yang lain mengikuti,” jelasnya.

Ibu Martiana mencontohkan soal kedisiplinan. Jika ia mau gurunya datang tepat waktu, maka ia harus datang lebih dahulu. Aturan ini juga berlaku saat ia menggagas sekolah Adiwiyata.”Saya duluan menanam dan merawat bunga, sehingga guru yang lain melihat,” tambahnya.

Dalam menggerakkan literasi di sekolahnya, Ibu Martiana menerapkan keteladanan yang serupa. Ia lebih dahulu aktif membaca buku. Setelah itu, baru mengajak guru-guru yang lain. “Segala perubahan di sekolah harus dimulai dari kepala sekolah dan guru,” katanya.

Ibu Martiana berusaha demokratis dalam mengambil keputusan. Setiap program sekolah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan forum guru. Setiap pendapat dihargai dan dimasukkan ke dalam program.

Ibu Martiana belum mau berhenti berinovasi. Kini ia fokus membenahi hasil pembelajaran. Ia berharap dengan dukungan INOVASI, keterampilan pedagogi guru-gurunya bisa semakin baik sehingga keinginan mereka menjadi sekolah literasi bisa terwujud.

Sebuah sekolah dasar menginspirasi budaya membaca di Bulungan