Refleksi Psikoedukasi di Lombok Utara

Sebagai salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lombok Utara telah menghadapi perjuangan yang berat karena kabupaten ini sangat terdampak oleh gempa 6,9 Skala Richter pada awal Agustus 2018.

Sejak bermitra dengan Lombok Utara pada pertengahan 2016, program rintisan INOVASI awalnya berfokus pada literasi kelas awal dan pelatihan guru dan pembangunan kapasitas, sesuai dengan prioritas pemerintah daerah setempat.

Ketika gempa melanda, komunitas lokal, sekolah dan guru pun terdampak. Pengajaran dan pembelajaran terganggu sementara. Gempa susulan berikutnya menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada gedung-gedung pemerintah, sekolah, dan juga masyarakat. Gempa susulan berlanjut selama berminggu-minggu, dan dirasakan oleh siswa dan guru. Semua sekolah mitra INOVASI rusak. Lombok Utara membutuhkan ruang kelas dan tempat tinggal sementara, dan strategi agar siswa dapat kembali belajar.

Dalam semangat mencari solusi lokal untuk permasalahan lokal dalam pendidikan, INOVASI mulai bekerja dengan cepat dengan para pemangku kepentingan setempat untuk merancang strategi baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan pasca gempa. Ini termasuk konseling psiko-sosial, bermitra dengan ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia). Selain itu, INOVASI memimpin pengkajian keamanan sekolah mitra dan terus mendukung pembangunan Sekolah Bambu, sementara bangunan sekolah yang rusak diperbaiki dalam beberapa bulan mendatang. Program rintisan yang dirancang ulang ini dimulai pada bulan September.

Awal bulan Oktober lalu, INOVASI dan ABKIN mengadakan pelatihan untuk guru-guru sekolah dasar yang menjadi mitra INOVASI. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar mereka lebih siap mengajar di kelas pasca gempa dengan merujuk pada modul yang dikembangkan INOVASI bersama ABKIN. Diharapkan nantinya siswa menjadi lebih cepat beradaptasi pasca gempa.

“Menurut saya, psikoedukasi merupakan hal yang penting bagi kita semua, penduduk Lombok Utara. Khusus untuk anak-anak yang masih di Sekolah Dasar, termasuk orang tua siswa. Karena saya mendengar banyak orang tua yang melarang anak-anak mereka pergi ke sekolah karena mereka khawatir akan terjadi gempa lagi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Lombok Utara, Dr. Fauzan.

Pada tanggal 28 Oktober, INOVASI bersama ABKIN mengadakan pertemuan untuk para fasilitator daerah (Fasda) program rintisan INOVASI di Kabupaten Lombok Utara sebagai tindak lanjut dari kegiatan psikoedukasi yang dilaksanakan awal bulan Oktober lalu. Tujuan dilakukannya pertemuan ini adalah untuk mengetahui kendala yang dihadapi para Fasda saat pendampingan sehingga Fasda, ABKIN, dan INOVASI dapat mencari solusi yang dapat membantu Fasda dalam pendampingan kepada para guru.

“Tujuan kita mengadakan acara ini adalah sebagai tempat kita melakukan evaluasi dan merefleksi diri dalam kegiatan pendampingan yang telah Bapak dan Ibu lakukan. Berbagi pengalaman selama mendampingi guru-guru di sekolah. Jika mengalami kendala kita akan mencari solusinya bersama,” ucap Sugeng Prayoga dari ABKIN kepada para Fasda.

Dalam acara ini para peserta pelatihan dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 6 sampai 7 orang. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan kendala yang dialami masing-masing Fasda dalam kelompok tersebut dan mencari solusinya bersama. Kemudian, masing-masing perwakilan kelompok akan menyampaikan hasil diskusinya untuk ditanggapi kelompok lain.

Salah satu kendala yang banyak ditemukan adalah para guru cenderung tidak dapat mengaktualisasikan modul ke konteks belajar mengajar di kelas mereka masing-masing.

“Guru-guru terlalu terpaku dengan apa yang mereka dapat pada pelatihan kemarin. Mereka terpaku pada modul yang diberikan. Guru-guru tidak mengembangkan apa yang mereka dapat. Jadi ketika guru tersebut mengajar dengan materi yang berbeda atau mata pelajaran yang berbeda, maka guru tersebut akan sulit untuk menerapkan psikoedukasi ini,” kata Taufik Agustanto, salah satu pengawas sekolah.

Setelah berdiskusi tentang proses pendampingan dan melakukan evaluasi, para Fasda diharapkan nantinya dapat mengoptimalkan proses pendampingan. Selanjutnya, para Fasda akan terus melakukan pendampingan kepada para guru dalam rangka mengoptimalkan proses belajar mengajar pasca gempa di sekolah-sekolah dampingan INOVASI.

Refleksi Psikoedukasi di Lombok Utara