Perluasan program rintisan INOVASI kepada guru non-mitra di Lombok Tengah

Setelah menandatangani kemitraan tingkat provinsi resmi pertamanya dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) di pertengahan 2016, program INOVASI melaksanakan program rintisan pertamanya di Kabupaten Lombok Utara dan Sumbawa di paruh pertama 2017. Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) merupakan pengejawantahan dari namanya: aspiratif, inklusif, dan pembelajaran secara kontekstual. Dengan kata lain, guru-guru yang baik adalah mereka yang mau belajar dan bersedia menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan kontekstual untuk para siswanya. Kegiatan rintisan ini sekarang akan dilaksanakan di Lombok Tengah, dengan pendanaan dari pemerintah lokal dan dukungan teknis dari INOVASI.

Berbagai terobosan guna meningkatkan mutu pendidikan serta kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di Lombok Tengah terus digalakkan. Pada tanggal 27-30 Agustus, Dinas Pendidikan Lombok Tengah dan INOVASI melaksanakan pelatihan bagi 125 guru Sekolah Dasar kelas awal yang bukan merupakan mitra INOVASI. Pelatihan diselenggarakan di SMP 7 Praya Kelurahan Panjisari dengan mengangkat tema “Pengembangan Mutu dan Kualitas Program Pendidikan dan Pelatihan Bagi Pendidik dan Tenaga Pendidikan Tahun 2018.”

Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah H. Sumum M.Pd mengatakan, pihaknya selama ini sangat berterima kasih kepada INOVASI, terlebih apa yang selama ini dilakukan INOVASI sangat baik di Lombok Tengah. “Hal ini berangkat dari sebuah tujuan untuk meningkatkan dan memajukan dunia pendidikan. Untuk itu, peran guru yang merupakan garda terdepan dalam pendidikan sangat penting dan harus memperhatikan beberapa komponen, yakni kebutuhan guru dan bagaimana guru membuat pengajaran dalam hal literasi dan numerasi. Semua ini telah dipraktikkan oleh INOVASI,” jelasnya.

Untuk itulah H. Sumum merasa berkewajiban untuk melakukan perluasan ke sekolah lain yang belum tercakup dalam program rintisan INOVASI. Lebih lanjut ia menambahkan, perluasan ini bisa terwujud karena adanya masukan dari Kelompok Kerja Guru (KKG), sehingga apa yang dimiliki oleh fasilitator terutama pengetahuan dapat ditransfer kepada guru lain yang tidak termasuk dalam guru mitra dari program rintisan INOVASI di Lombok Tengah. H. Sumum juga mengatakan bahwa anggaran kegiatan ini berasal dari APBD.

“Saya harap ke depannya tak ada satu sekolah yang terlewatkan untuk mendapatkan pengimbasan dari program-program rintisan INOVASI. Hasil INOVASI sangat membantu dunia pendidikan di Lombok Tengah,” ujar H. Sumum.

Sementara itu salah seorang narasumber yang juga merupakan fasilitator daerah program rintisan Guru BAIK, Drs H. Turmuzi, mengatakan “Dalam pelatihan ini kami mengajak peserta untuk mengkaji kembali kemungkinan penyebab kesulitan dalam pengajaran dengan mencari akar permasalahannya. Sebagai contoh, saya mengajak para peserta untuk mencari penyebab utama dari kesulitan belajar siswa dalam mengalikan dua bilangan.”

Saat peserta sudah menentukan penyebab utamanya, fasilitator bertanya bagaimana peserta menentukan bahwa penyebab tersebut merupakan faktor utama dan kriteria yang digunakan. Setelah itu, fasilitator menuliskan kriteria-kriteria yang muncul dari peserta di lembaran yang sudah tersedia.

Jika peserta tidak mampu mengemukakan pendapat mereka mengenai kriteria yang digunakan dalam menentukan penyebab utama kesulitan belajar siswa, maka fasilitator merujuk pada kriteria masalah pembelajaran yang sudah tersedia yaitu:

  • Penyebab tersebut berdampak besar terhadap tingkat pemahaman siswa di bidang literasi atau numerasi;
  • Waktu yang diperlukan untuk mengatasi penyebab tersebut kurang lebih selama periode pelaksanaan program;
  • Sumber/media yang diperlukan untuk mengatasi penyebab tersebut masih dalam kemampuan guru;
  • Tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi penyebab tersebut masih dalam ruang lingkup kerja dan kemampuan guru.

Pelatihan ini telah membuka ruang bagi para fasda INOVASI untuk dapat menularkan ilmu dan keterampilan yang telah mereka dapat, baik dari pelatihan yang difasilitasi oleh INOVASI dan juga praktik di ruang kelas mereka, kepada para guru non-mitra INOVASI. Dengan demikian, imbas program INOVASI dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran siswa akan semakin luas.

 

Perluasan program rintisan INOVASI kepada guru non-mitra di Lombok Tengah