Peran orang tua dalam proses pembelajaran anak

Oleh: Tumpal Sujadi, Child Protection Officer INOVASI

 

Orangtua adalah orang terdepan dan pertama sebagai pengajar bagi anak. Partisipasi orangtua secara aktif dalam mendukung dan mengusahakan peningkatan kualitas pendidikan anak baik formal maupun informal sangat penting. Hubungan anak dan orang tua adalah salah satu faktor pondasi dari pertumbuhan dan perkembangan anak yang mencakup perasaan, pikiran dan perilaku. Semakin baik kualitas hubungan anak dengan orangtua, maka semakin baik pula pertumbuhan dan perkembangan anak.

Di semua kabupaten mitra, INOVASI bekerja dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk orangtua dan masyarakat. Bulan lalu, INOVASI menginisiasi pertemuan dengan seluruh orangtua murid dari kelas 1 hingga kelas 6 di beberapa sekolah mitra program rintisan kelas rangkap di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.  Pertemuan dilakukan pada tanggal 5-7 Maret di SDN Wonokerto 2, SDN Sariwani 2, SDN Ngadisari 2, dan SDN Sukapura 3, secara terpisah.

Beberapa sekolah mitra program rintisan kelas rangkap tersebut memiliki karakter yang serupa, di mana mereka memiliki jumlah murid yang cukup kecil yaitu berkisar 40-60 untuk total keseluruhan anak dari kelas 1 hingga ke kelas 6. Hal yang lumrah di sekolah-sekolah tersebut jika pada musim tertentu, anak-anak tidak masuk sekolah beberapa hari untuk menemani orangtua ke ladang ataupun ke pasar.

Selain masalah ketidakhadiran anak, terdapat beberapa permasalahan lain yang dirasa sering menggangu proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah, yaitu anak-anak yang terlalu sering menghabiskan waktu bermain telepon seluler sehingga lupa belajar, lupa sembahyang dan lainnya. Hal yang menarik adalah justru banyak dari anak yang memiliki telepon seluler karena orangtualah yang memberikannya, hanya karena melihat anak lain sudah memiliki telepon seluler.

Kegiatan dimulai dengan melakukan refleksi. Peserta diminta mengingat kembali bagaimana interaksi dengan orang tua mereka sewaktu mereka masih kecil. Kemudian dilanjutkan dengan mengingat pengalaman masa kecil yang dirasa tidak menyenangkan selama berinteraksi dengan orang lain baik itu dengan teman sebaya ataupun orangtua. Terakhir adalah mencoba menganalisa dan mencari jalan keluar yang sederhana dari berbagai permasalahan yang dianggap cukup menghambat proses pembelajaran anak-anak.

Melalui pendekatan PDIA (problem driven iterative adaptation), peserta diajak berdiskusi bersama peserta lain untuk menyadari apa saja sebenarnya dampak jika persoalan-persoalan seperti bolos sekolah ataupun berlebihan bermain telepon seluler dibiarkan terus menerus. Apa saja akar masalah dari persoalan tersebut? Bagaimana seharusnya menyelesaikan permasalahan tersebut?

Dari proses analisa pohon masalah, peserta menyadari bahwa permasalahan dibiarkan tidak diselesaikan karena tidak menyadari apa saja dampak jangka pendek dan dampak jangka panjangnya. Peserta juga tidak mencari tahu akar permasalahannya sehingga sulit menentukan solusi yang tepat.

Setelah mereka menyadari dampak dan akar permasalahannya, peserta melanjutkan diskusi untuk mencari solusi sederhana yang praktis untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Dari diskusi yang tidak terlalu panjang, peserta dapat menemukan solusi sederhana untuk permasalahan anak yang terlalu sering bermain ponsel. Salah satu solusinya adalah membuat kesepakatan bersama dengan anak terkait jadwal kegiatan anak kapan bermain, kapan istirahat, kapan belajar. Pada awalnya peserta berpikir bahwa membuat jadwal merupakan tugas orangtua. Namun ternyata saat anak tidak didengarkan pendapatnya, anak akan mengabaikan instruksi tersebut. Akhirnya diputuskan untuk mencoba mendiskusikan jadwal bersama dengan anak dan menyepakatinya bersama dengan anak. Hal ini sangat penting dalam perubahan paradigma, bahwa anak tidak lagi diposisikan sebagai objek sebuah instruksi, tetapi menjadi subjek yang memikirkan sesuatu yang berdampak bagi dirinya.

Selain itu, para orangtua juga berkomitmen untuk mengatur waktu mereka sendiri di rumah untuk dapat menyisihkan waktu lebih banyak untuk menemani dan berinteraksi dengan anak. Misalnya mendampingi anak saat belajar ataupun mengajar anak tentang berbagai hal seperti terkait literasi dan numerasi melalui berbagai kegiatan sehari-hari.

Beberapa contoh kegiatan yang dapat membangun interaksi lebih produktif dengan anak misalnya anak diminta untuk belanja sesuatu. Melalui kegiatan ini, anak diajarkan menulis dan membaca daftar belanjaan yang harus dibeli, dan mengetahui proses berhitung. Berapa jumlah yang yang dibawa, berapa yang dibelanjakan. Berapa barang yang dibeli dan menghitung berapa sisa uang (jika ada) dan seterusnya. Atau bisa juga menulis dan membaca resep kue sebelum membuat kue.

Menemukan solusi sederhana dan praktis juga berhasil ditemukan oleh orangtua untuk persoalan ketidakhadiran anak. Mereka berkomitmen tidak mengajak anak bepergian di jam sekolah.

“Sepulang dari sini, saya ingin bisa mengajari anak lebih baik lagi,” ucap salah seorang peserta saat mengakhiri pertemuan di salah satu sekolah.

Peran orang tua dalam proses pembelajaran anak