Menjembatani Pengetahuan Melalui Transisi Bahasa

Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman bahasa yang paling banyak di Asia, namun ada banyak tantangan dalam hal pendidikan bagi penutur bahasa ibu. Konstitusi Indonesia mengamanatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar dalam pendidikan formal. Bahasa Indonesia, yang dipilih pada tahun 1928 sebagai bahasa resmi negara dalam upaya mempromosikan persatuan dan identitas nasional, adalah bahasa ibu bagi kurang dari sepuluh persen populasi. Ini berarti bahwa sebagian besar siswa Indonesia memulai sekolah dalam sistem pendidikan yang tidak sepenuhnya dapat mereka pahami.

Di Bima, rumah bagi bahasa lokal Mbojo, INOVASI telah berupaya mengatasi masalah ini melalui Pembelajaran Multi Bahasa berbasis Bahasa Ibu (GEMBIRA). Bekerja sama dengan guru dan pembuat kebijakan, strategi dan solusi yang relevan secara lokal telah diimplementasikan.

Untuk guru mitra seperti Sunardin, strategi ini terbukti sangat berguna di kelas.

Sunardin adalah seorang guru muda di SDN 6 Sila. Perjalanan karirnya baru dimulai dua tahun lalu. Dia dipercayakan memegang kelas satu di sekolah tersebut. Bagi Sunardin, ini adalah sebuah tantangan besar. Memperkenalkan literasi dan numerasi ke anak-anak kelas satu tentu bukan hal yang mudah. Apalagi dalam konteks di Kabupaten Bima, di mana mereka masih sangat kental dengan bahasa ibu dalam keseharian.

“Agak kesulitan untuk memperkenalkan beberapa konsep dalam bahasa Indonesia ke anak-anak. Mereka mengalami kesulitan untuk mememahami,” ujar Sunardin.

Dengan kondisi seperti itu, model belajar konvensional tidak bisa diterapkan. Harus ada cara kreatif dan inovatif yang memungkinkan anak-anak menyerap pembelajaran dan pengenalan literasi serta numerasi yang dilakukan dalam bahasa Indonesia.

Sunardin kemudian menerapkan beberapa strategi dalam kegiatan belajar di kelas. Misalnya saja dengan menggunakan media gambar saat memperkenalkan benda dan huruf awalnya. Sejumlah gambar dari benda-benda yang akrab ditemui oleh anak-anak itu ditampilkan di depan kelas dengan namanya dalam bahasa Indonesia. Melalui metode ini, dia juga perlahan memperkenalkan huruf dan angka ke mereka. Cara lain yang biasa ia gunakan adalah dengan menggunakan bahasa tubuh saat memperkenalkan anggota badan.

“Saya juga kerap menggunakan media cerita lokal pada anak-anak di kelas. Setelah mereka memahami konsep cerita tersebut, saya kemudian akan mengulangi lagi dengan menggunakan bahasa Indonesia,” paparnya.

Meski pernah belajar tentang pemanfataan media-media gambar untuk mengajar saat masih kuliah di PGSD dulu, Sunardi menemukan bahwa apa yang baru dia dapatkan ini agak berbeda.

“Dulu, kami juga menggunakan media gambar, tetapi gambarnya lebih umum. Kini, media gambar yang kami buat disesuaikan dengan tema pembelajaran serta tingkatan pertumbuhan dan kebutuhan anak serta tentunya menyesuaikan dengan konteks lokal. Ini membuat anak-anak cepat memahami,” sebut Alumni PGSD Universitas Mataram itu.

Selama kegiatan pra-rintisan, strategi tambahan diperkenalkan kepada guru mitra, termasuk:

  • Respons fisik total – metode pengajaran bahasa berdasarkan koordinasi bahasa dan gerakan fisik.
  • Pendekatan kontekstual – yang menggunakan bahan pembelajaran yang sekat dengan kehidupan siswa dalam konteks lokal untuk membantu siswa lebih mudah terkoneksi dengan pembelajaran.
  • Pendekatan eksperimental – yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan bahasa dengan mengeksplorasi pengalaman pribadi dan budaya mereka sendiri.
  • Jembatan Bahasa – yang melihat proses transisi bahasa secara bertahap, pertama menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa pengajaran di kelas, dan kemudian secara bertahap memperkenalkan bahasa Indonesia. Setelah ini, bahasa Indonesia digunakan selama semua pelajaran, biasanya di kelas 3.

Sunardi begitu antusias dengan berbagai metode kreatif yang diperkenalkan oleh program rintisan GEMBIRA ini. Dia menyusun pembelajaran setiap hari dengan menerapkan model tersebut. Sambutan para siswanya juga sangat baik, sebab hal ini membuat suasana kelas menjadi tidak membosankan. Namun, hal utama yang membuat dia bersemangat adalah karena dia sudah melihat dampak dari berbagai model pembelajaran baru itu pada siswa-siswanya di kelas.

“Alhamdulillah, sejak model kreatif seperti media gambar itu dipakai di kelas, anak-anak sudah mulai banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, khususnya ketika berada di kelas,” cerita Sunardin.

Menjembatani Pengetahuan Melalui Transisi Bahasa