Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dengan Metode Pembelajaran yang Menyenangkan di Sumbawa

Di Sumbawa, salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di NTB, para guru dan kepala sekolah telah terlibat dalam sebuah uji coba yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas pengajaran dan pembelajaran mereka. Dengan menggunakan pendekatan ‘solusi lokal untuk masalah-masalah lokal’, program rintisan Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) sekarang sedang berjalan, mendukung para guru untuk mengembangkan dan menguji solusi untuk masalah pembelajaran yang mereka hadapi di kelas. Dengan meningkatkan keterampilan guru dan membantu meningkatkan keterampilan dasar siswa dalam literasi dan numerasi, kita dapat lebih memperkuat dasar sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Dalam lokakarya Guru BAIK yang berlangsung di Hotel Cirebon Sumbawa, 1-2 September 2018, para guru Sekolah Dasar berkumpul bersama untuk saling berbagi tentang tantangan dan masalah umum seputar pengajaran matematika kepada siswa kelas awal mereka. Berbicara secara terbuka, mereka menjelaskan bahwa matematika adalah subjek yang kurang menarik bagi siswa kelas awal. Guru juga tidak memiliki kemampuan untuk merancang strategi pembelajaran di area numerasi ini.

Hal itu terbukti saat seorang fasilitator mengajak peserta mengeksplorasi masalah pembelajaran matematika dengan mengidentifikasi penyebab masalah kesulitan belajar anak melalui sebuah contoh kasus kesalahan jawaban pada Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas 3.

Ditemukan ternyata salah satu penyebab utama kesulitan anak menjawab soal-soal matematika karena guru kurang mampu menanamkan konsep sehingga siswa kehilangan arah dalam mengerjakan soal. Persoalan lainnya adalah ketidakmampuan guru menciptakan media pembelajaran yang menarik. Dengan kata lain, guru kurang kreatif memanfaatkan sumberdaya di sekitarnya untuk mendukung proses pembelajaran.

Apa yang menjadi keluhan tersebut berbeda dengan fakta yang terjadi di SDN 3 Lape, di mana guru matematikanya memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengatasi masalah pembelajaran matematika di kelas awal.

Hadiahtollah adalah guru tersebut. Dia mengembangkan metode pembelajaran matematika agar siswanya termotivasi untuk belajar. Wanita kelahiran Taliwang, 10 Agustus 1971 ini menghasilkan karya inovatif yang diterapkan sebagai metode pembelajaran matematika.

Metode yang dikembangkannya untuk pembelajaran matematika kelas awal disebut dengan metode “Kait Angka”. Kait Angka merupakan perangkat pembelajaran berupa alat peraga yang dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan sangat sederhana yang ada di sekitar seperti keping Compact Disc (CD) bekas, lem, gunting, kertas, renda emas, paku payung, benang wol dan penjepit rambut.

Menurut fasilitator daerah (Fasda) Guru BAIK Kecamatan Lape ini, Kait Angka merupakan alat peraga yang didesain untuk memudahkan anak menentukan letak angka dalam bilangan (misal: satuan, puluhan, ratusan) dan menyebut nama bilangan. Pembuatan Kait Angka harus dibuat semenarik mungkin sehingga dengan tampilan saja memberi daya tarik bagi anak. Pertama-tama ia menyiapkan papan tripleks yang dilapisi dengan karpet berwarna. Tepinya dihiasi dengan renda emas agar lebih menarik. Di bagian atas papannya ditempelkan tulisan “NILAI TEMPAT dan NAMA BILANGAN” sebagai judul.

Paku ditancapkan secara horizontal dengan jarak sama sementara CD bekas sebanyak sembilan keping dihias sedemikian rupa dan dituliskan angka 0-9. CD kemudian digantungkan menggunakan benang wol yang dijepit dengan penjepit rambut pada paku yang tertancap. Di atas masing-masing paku ditempeli tulisan “NILAI TEMPAT”.

Paku pertama dari kanan di atasnya ditulis kata “SATUAN”, paku kedua PULUHAN, paku ketiga RATUSAN, paku keempat RIBUAN dan seterusnya. Sedangkan di bagian bawah papan ditempelkan tulisan “NAMA BILANGAN ADALAH….” dan dibawahnya ditempelkan kertas kosong yang digunakan sebagai tempat menulis nama bilangan sesuai nilai tempat.

Dengan mengoperasikan alat peraga ini, anak-anak dapat dengan mudah menentukan nilai tempat dan nama bilangan. Misalnya, guru meminta anak menyebutkan nilai tempat dan nama bilangan angka 7869. Anak dengan mudah mengaitkan angka tersebut sesuai nilai tempatnya; 9 ditempatkan pada SATUAN, 6 pada PULUHAN, dan 8 pada RATUSAN, sedangkan angka 7 ditempatkan pada RIBUAN.

“Sebenarnya media pembelajaran ini merupakan metode belajar sambil bermain. Metode ini tidak hanya dipakai di dalam kelas tetapi juga dapat digunakan di luar kelas atau di mana saja saat anak-anak istirahat,” terangnya.

SDN 3 Lape adalah penyelenggara sekolah inklusi. Jumlah ABK sebanyak 94 orang termasuk didalamnya terdapat siswa ABK yang mengalami tuna rungu. Tuna rungu adalah seorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran.

Selain media pembelajaran Kait Angka, ibu tiga anak yang sudah berkarir sebagai guru 25 tahun ini juga mengembangkan metode berhitung operasi penjumlahan dan pengurangan bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), khususnya bagi anak-anak tuna rungu. Metode ini disebut “GEMA” (Geser Maju Mundur Angka).

Hadiatollah, mengembangkan media pembelajaran GEMA yang menarik dalam bentuk visual yang mana cara menerangkannya menggunakan bahasa bibir atau gerakan bibir. Untuk mengimplementasikan pembelajaran GEMA, di dalam ruangan kelas telah disediakan beberapa alat peraga seperti papan media, gantungan besi korden dan sejumlah keping CD yang berisi angka.

Adapun metode GEMA untuk ABK dimulai dari menguji kemampuan siswa mengenal angka 0-9. Guru lalu menjelaskan tentang langkah operasi penjumlahan dengan cara menggeser maju sedangkan operasi pengurangan dengan cara menggeser mundur angka.

Sebagai contoh untuk operasi penjumlahan, siswa diminta memilih dua keping CD yang sudah ditulis angka 1 sampai 100 yang tersedia dalam kotak angka, sebagai soal penjumlahan. Misalnya angka yang dipilih adalah 2 dan angka 6, lalu kedua angka tersebut digantung di papan media di bawah tulisan PENJUMLAHAN yang  tertulis…..+……=…….yang berarti  2 + 6  = …….

Untuk menentukan hasil penjumlahan, siswa diminta menggeser maju angka pada keping CD yang tersedia di gantungan besi korden. Hitungannya dimulai  dari angka 2 diikuti angka-angka berikutnya yang digeser secara berurutan sebanyak 6 kali sehingga siswa menemukan  angka terakhirnya yaitu angka 8.

Siswa lalu diminta mengambil angka yang sama (maksudnya angka 8) yang tersedia dikeping CD pada kotak angka untuk kemudian digantungkan di papan media di samping tanda “=”  sehingga terbentuk pasangan angka 2+6=8.

Hal yang sama juga berlaku bagi hitungan pada operasi pengurangan. Hanya saja cara menghitung operasi pengurangan dilakukan dengan  menggerser mundur angka.

Media pembelajaran Haidahtollah yang sederhana menunjukkan bahwa inovasi lokal dan penguatan keterampilan mengajar sangat membantu meningkatkan dasar-dasar literasi dan numerasi di kelas. Guru BAIK akan terus bekerja dengan para guru selama beberapa bulan ke depan di Sumbawa.

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dengan Metode Pembelajaran yang Menyenangkan di Sumbawa