Memperkuat pendidikan setelah gempa Lombok

Sebagai salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lombok Utara telah menghadapi cobaan yang berat karena gempa bumi pada awal Agustus lalu. Sejak bermitra dengan Lombok Utara pada pertengahan 2016, program rintisan INOVASI di kabupaten ini fokus pada kemampuan membaca dan pelatihan guru kelas awal dan pengembangan kapasitas.

Ketika gempa melanda, komunitas lokal, sekolah dan guru terdampak, sehingga pengajaran dan pembelajaran terganggu sementara. Gempa susulan terus berlanjut selama berminggu-minggu setelahnya, dirasakan oleh siswa dan guru. Semua 21 sekolah mitra INOVASI rusak, sehingga dibutuhkan ruang kelas dan tempat tinggal sementara, dan strategi untuk bisa kembali belajar.

Dalam semangat mencari solusi lokal untuk isu-isu lokal dalam pendidikan, INOVASI mulai bekerja dengan cepat dengan para pemangku kepentingan setempat untuk merancang strategi baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan setelah gempa. Ini termasuk konseling psikososial dan pendidikan untuk siswa dan komunitas yang terkena dampak, dan pembangunan kelas sementara. Psikoedukasi merupakan hasil kemitraan INOVASI bersama ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia). ABKIN memfasilitasi INOVASI untuk mengemas modul “Kumpulan Kegiatan Psiko – Edukatif Pasca Gempa NTB” yang bertujuan mendukung anak cepat beradaptasi dengan keadaan yang terjadi akibat gempa.

Fitria Kaplale, seorang guru kelas awal di SDN 2 Pemenang Barat, adalah salah satu guru mitra yang terdampak gempa. Menghadapi situasi di mana anak-anak menjadi tidak tenang saat belajar adalah hal yang tidak mudah baginya saat mengajar. Belum lagi proses belajar harus dilaksanakan di dalam tenda yang mana akan terasa panas saat diterpa matahari. Tentu keadaan ini dapat membuat siswa sulit berkonsentrasi dan menghambat proses kegiatan belajar mengajar.

Pada awal bulan Oktober 2018, Fitria bersama rekan guru dan kepala sekolah mengikuti kegiatan pelatihan psikoedukasi Program Pendidikan Tanggap Darurat dan Pemulihan Pasca Gempa yang diadakan oleh INOVASI di SDN 2 Sokong. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar para guru bisa mengurangi tingkat trauma siswa dengan metode permainan dan imajinasi. Setelah mengikuti pelatihan selama dua hari, Fitria langsung mempraktikkan apa yang didapatnya saat pelatihan. Menurutnya, pelatihan tersebut sangat bermanfaat dan membantu dirinya saat mengajar.

“Ilmu yang kami dapat saat pelatihan kemarin sangat bermanfaat sekali bagi kami para guru dan bahkan bagi siswa. Dengan mempraktikkan apa yang kami dapat saat pelatihan kemarin dapat mengurangi trauma siswa atau trauma healing,” ungkap Fitria. Mempraktikkan apa yang didapatkan saat pelatihan diakui tidak begitu sulit bagi Fitria karena menurutnya yang perlu dilakukan oleh guru adalah menyesuaikan metode dengan materi pembelajaran yang disampaikan.

“Alhamdulillah, sampai saat ini saya belum menemui kendala yang berarti ketika mempraktikkan apa yang saya dapat di pelatihan psikoedukasi kemarin. Menurut saya yang perlu dilakukan adalah mencari hubungan antara metode yang akan kita gunakan dengan materi pelajaran yang akan kita sampaikan,” ujar Fitria.

Sebelum mengajar, Fitria kini membuat perencanaan pembelajaran terlebih dahulu agar pembelajaran menjadi terarah dan tercapai. Fitria dan guru yang lain biasanya akan menyusun perencanaan pembelajaran satu minggu sebelum pembelajaran dan akan didampingi oleh seorang fasilitator daerah.

Setelah beberapa kali mempraktikkannya dalam pembelajaran, Fitria senang dengan apa yang dilihatnya. Saat di dalam kelas, siswa terlihat lebih senang dari sebelumnya. Mereka juga sering mengulangi yel-yel atau permainan yang pernah ia praktikkan di kelas tanpa diminta. Hal tersebut adalah pertanda bahwa apa yang dilakukan Fitria di kelas diterima dengan baik oleh siswa.

“Saya tidak menyangka kalau respon siswa-siswa saya seperti itu. Menurut saya ini sangat luar biasa karena kadang-kadang mereka tiba-tiba menyanyikan yel-yel yang pernah saya ajarkan seolah mereka mengajak saya untuk melakukannya lagi. Harapan saya semoga dengan seperti ini terus orang tua siswa juga semakin tenang untuk melepas anak-anak mereka belajar di sekolah.”

Memperkuat pendidikan setelah gempa Lombok