Membangun pemahaman siswa di Bima, NTB dengan transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia

Indonesia memiliki lebih 652 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan pemersatu bangsa tentu berperan penting, di samping mempertahankan keberadaan bahasa-bahasa di daerah. Di dunia pendidikan Indonesia, konstitusi mengizinkan bahasa daerah digunakan sebagai pendukung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun kemampuan guru untuk memanfaatkannya dalam metode mengajar di kelas masih perlu ditingkatkan – transisi penggunaan bahasa daerah perlu dirancang dengan baik menuju bahasa Indonesia. Karena jika penguasaan siswa terhadap bahasa pengantar pembelajaran rendah, tentu akan berdampak pada hasil belajar mereka.

 Data baseline INOVASI tahun 2018 di Bima melukiskan gambaran tentang kualitas dan tantangan pembelajaran. Temuan sampel mengungkapkan bahwa 91% anak-anak di Bima menggunakan bahasa lokal Mbojo di rumah. Pada tes literasi dasar, hanya 18% siswa di kelas satu yang lulus, diikuti 46% yang lulus di kelas dua dan 65% di kelas tiga. Untuk siswa kelas tiga, hanya 72% yang lulus pengenalan suku kata dan hanya 66% yang lulus bagian pengenalan kata. Hasil ini menunjukkan pentingnya mendapatkan transisi bahasa ibu yang benar, serta pentingnya peran guru dalam mengatasi masalah pembelajaran transisi bahasa.

Pagi itu ruang kelas 1 SDN Sarikalampa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, sudah riuh dengan suara anak-anak. Mereka berebut menyebutkan nama benda pada gambar di papan tulis yang ditunjuk oleh sang guru, Nurdiana. Nama benda-benda tersebut ditulis dalam bahasa daerah, yaitu bahasa Mbojo. Sang guru pun menjelaskan benda tersebut dengan menggunakan bahasa Mbojo. Sesekali pula ia menyelipkan bahasa Indonesia saat menjelaskan tentang benda tersebut kepada siswa-siswanya.

Penggunaan bahasa daerah memang sangat dominan di keseharian masyarakat Bima termasuk anak-anak. Sebuah kondisi yang kemudian menjadi tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak-anak masih kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak yang duduk di SD kelas awal tersebut belum menguasai bahasa pengantar pembelajaran – bahasa Indonesia. Tantangan ini pula yang di alami oleh Nurdiana selama bertahun-tahun mengajar sebagai guru di SD kelas awal di Bima.

“Anak-anak di kelas kerap mengalami kesulitan ketika memahami konsep pelajaran karena pelajaran diberikan bukan dalam bahasa Ibu mereka, tetapi bahasa yang belum terlalu akrab di telinga mereka. Dulu, saya hanya mencampur-campur bahasa begitu saja dalam menyampaikan pelajaran, dan tidak beraturan. Hasilnya, ketika saya memberikan tugas baik di kelas ataupun di rumah, anak-anak tidak tuntas menyelesaikannya karena ada hal-hal yang mereka tidak pahami,” ujar Nurdiana.

Namun, cara mengajar Nurdiana mulai berubah sejak terlibat dalam program rintisan yang dilaksanakan INOVASI di Kabupaten Bima, yaitu program rintisan pembelajaran multibahasa berbasis bahasa Ibu atau dikenal dengan program rintisan GEMBIRA. Ia mengaku pandangannya pun berubah dan menyadari bahwa mengajar anak-anak dengan kondisi spesifik seperti di sekolahnya membutuhkan pendekatan yang inovatif namun tetap terstruktur. Tidak hanya dalam soal penggunaan bahasa saja, namun juga dalam penggunaan materi pembelajaran yang dapat mendukung proses belajar mengajar.

“Saya diperkenalkan dengan beberapa metode baru melalui pelatihan yang dilakukan oleh program INOVASI. Misalnya jembatan bahasa, serta bagaimana menggunakan Big Book atau Buku Besar dalam pembelajaran, dan juga beberapa cara lainnya. Pengetahuan baru tersebut kemudian saya terapkan di kelas,” kata Nurdiana.

Jembatan bahasa diterapkan dengan terlebih dahulu menjelaskan berbagai konsep pada anak dengan menggunakan bahasa Mbojo. Nurdiana tidak langsung memaksakan penggunaan bahasa Indonesia, namun secara perlahan-lahan, ketika dia mulai melihat anak-anak sudah cukup kuat dalam memahami konsep tersebut, Nurdiana akan mulai menyampaikan pelajaran dalam bahasa Indonesia.

Media pembelajaran Big Book juga membantu proses belajar di kelas Nurdiana. Big Book adalah buku besar yang tiap lembarnya berisi cerita pendek dan dibuat secara kreatif dengan gambar-gambar yang menarik bagi anak-anak. Melalui cara bercerita ini, Nurdiana kemudian memperkenalkan konsep-konsep pelajaran dalam bahasa Ibu.

“Anak-anak selalu antusias ketika saya menggunakan Big Book di kelas. Big Book itu saya buat dengan gambar dan bentuk-bentuk yang saya buat sendiri. Gambar-gambar yang ada di dalam Big book itu kemudian saya jelaskan dengan menggunakan bahasa yang mereka pahami,” tutur Nurdiana.

Setelah beberapa waktu menerapkan berbagai metode inovatif tersebut di dalam kelasnya, Nurdiana mulai merasakan ada yang berbeda pada anak-anak didiknya. Mereka menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Tiap kali ia selesai menceritakan sebuah cerita dalam bentuk Big Book, anak-anak akan berebutan untuk menceritakan kembali.

“Mereka bersemangat untuk menceritakan kembali karena mereka mengerti apa yang baru saja saya ceritakan lewat Big Book itu,” jelas Nurdiana.

Teknik dan metode mengajar yang diperoleh Nurdiana melalui program rintisan yang dilaksanakan INOVASI mampu membuat suasana kelas menjadi berbeda, dan membawa kemajuan bagi anak didiknya. Bagi Nurdiana sendiri, mengikuti program INOVASI telah membuka ruang-ruang kreativitas dalam dirinya untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru di dalam kelas.

Beberapa waktu lalu, misalnya, Nurdiana mencoba menghadirkan pojok baca yang cantik di ruang kelasnya. Semua bahan dan proses pembuatan adalah hasil usahanya secara mandiri. Pojok baca tersebut melengkapi berbagai alat peraga yang sudah tergantung semarak di dinding-dinding kelasnya.

Lihat metode pengajaran Ibu Nurdiana di video ini.

Membangun pemahaman siswa di Bima, NTB dengan transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia