Membangun gerakan literasi nasional: kekuatan sebuah buku bacaan yang bagus

Pertumbuhan budaya membaca yang kuat di banyak daerah di Indonesia masih terus berlangsung. Pada lokakarya baru-baru ini di Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam kemitraan dengan INOVASI; pembuat kebijakan, penerbit buku dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya datang bersama-sama untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang untuk memperkuat literasi – khususnya di antara siswa kelas awal.

 

Membantu anak-anak membaca akan membantu suatu bangsa

Ketika berbicara tentang membangun Gerakan Literasi Nasional di negara dengan keragaman geografis dan budaya, tentunya aka nada banyak tantangan. Banyak anak-anak Indonesia di kelas satu sampai tiga yang belum mampu memahami dasar-dasar membaca, yang mengarah ke berbagai masalah pembelajaran di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Jangan lupa dampaknya pada produktivitas tenaga kerja. Hasil penilaian nasional memberikan gambaran yang mengecewakan.

Menanggapi masalah penting ini, motivasi untuk memperkuat angka literasi jelas diuraikan dalam rencana pembangunan teknokratik Indonesia tahun 2015-2019, menghubungkan peningkatan literasi dengan peningkatan produktivitas nasional, daya saing dan nilai-nilai karakter. Pembuat kebijakan dan pendidik terus menerapkan pendekatan untuk meningkatkan angka literasi nasional, salah satunya adalah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dilangsungkan secara nasional.

Gerakan ini diluncurkan oleh Menteri Pendidikan Indonesia pada tahun 2016, bersama dengan buku-buku baru, modul dan panduan tentang penilaian dan penilaian untuk fasilitator pelatihan. Ini untuk mendukung Keputusan Menteri tentang Pengembangan Karakter untuk siswa di seluruh Indonesia. Pada intinya, gerakan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara aktor-aktor kunci dalam sistem pendidikan Indonesia, dan memperluas keterlibatan publik dalam pengembangan gerakan literasi nasional. Strategi tingkat sekolah mencakup inisiatif seperti 15 menit membaca sebelum kelas dimulai setiap hari.

Pada lokakarya Puskurbuk pada bulan Desember 2018, Strategic Adviser INOVASI, Mary Fearnley-Sander berbicara tentang apa sebenarnya arti memiliki keterampilan literasi yang kuat. Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca kata-kata. Keahlian dasar lainnya termasuk kemampuan untuk:

  • Menjelaskan tema dan cerita dari bacaan
  • Menafsirkan motivasi penulis
  • Menarik kesimpulan dan mengintegrasikan ide dan informasi dari teks
  • Membedakan fakta dan pendapat
  • Menemukan dan mengevaluasi bukti untuk mendukung argumen
  • Menganalisis dan mensintesis apa yang sedang dibaca dan ekspresi penulis

Dengan kemampuan ini, anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi orang dewasa dengan ‘HOTS’ (higher order thinking skills) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi – kemampuan untuk melakukan penalaran strategis, pemecahan masalah dan pemikiran kritis. Ini adalah keterampilan inti untuk abad ke-21.

 

Kekuatan buku bacaan

Berbicara tentang meningkatkan kemampuan baca tulis dan mendorong kecintaan membaca di kalangan siswa Indonesia, ada satu pelajaran yang disetujui oleh para pembuat kebijakan dan praktisi: jangan pernah meremehkan kekuatan buku bacaan yang bagus.

Dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2009, hubungan antara membaca dan manfaat jangka panjang menjadi jelas.

“Di semua negara, siswa dengan minat baca yang tinggi memiliki hasil belajar yang lebih baik (secara signifikan) daripada siswa yang tidak suka membaca. Membaca untuk kesenangan berhubungan erat dengan hasil belajar yang lebih baik, jika disertai dengan tingkat pemikiran kritis dan pendekatan strategis untuk belajar. ”

Hal yang sama dikatakan dalam laporan Progress in International Reading Literacy study (PIRLS) 2006.

“Di semua negara, siswa yang membaca novel dan cerita pendek memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang membaca lebih sedikit. Siswa yang jarang atau tidak pernah melakukan ini memiliki hasil belajar yang rendah di sebagian besar negara.”

Setiap tahun, Puskurbuk merilis daftar buku baru yang dapat dibeli dan digunakan oleh sektor pendidikan. Kategori-kategori tersebut meliputi:

1. Buku pelajaran

2. Buku untuk guru

3. Buku referensi

4. Buku pengayaan

Tetapi apa yang membuat buku bacaan menjadi bagus? Dan kategori mana yang termasuk di dalamnya? Seperti yang dijelaskan Mary dalam lokakarya tersebut, buku cerita dianggap bagus jika anak-anak dapat dengan mudah mengenali struktur dan makna narasi atau tema, jika cerita tersebut memiliki motivasi, jika cerita dapat menarik dan menarik perhatian anak dan jika cerita dapat menghubungkan narasi dengan lingkungan anak itu sendiri. Dan tentu saja, cerita harus memiliki ilustrasi. Buku-buku cerita ini adalah dasar dari budaya membaca.

Saat ini di Indonesia, ketersediaan buku cerita bergambar seperti itu merupakan tantangan yang berkelanjutan. Ini termasuk proses persetujuan untuk buku-buku dalam daftar buku Puskurbuk nasional. Karena keterlambatan dan keterbatasan, buku cerita dari LSM dan penerbit lain tidak siap dimasukkan. Mengingat bahwa guru dan sekolah hanya akan membeli buku-buku yang ada dalam daftar, keterbatasan terasa di tingkat kelas. Persediaan buku tidak sesuai dengan minat baca.

Di Kalimantan Utara, salah satu provinsi mitra INOVASI, hasil dari survei dasar INOVASI menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen anak-anak mengaku suka membaca. Namun, dalam hal jenis buku yang sering dibaca oleh anak-anak, sekitar 67 persen masih didominasi oleh buku teks. Hanya sekitar 13 persen membaca buku cerita, 2 persen membaca buku pengetahuan umum dan sisanya membaca komik, majalah, dan buku-buku lainnya.

Provincial Manager Kalimantan Utara INOVASI, Handoko Wigdado berkata, “Survei kami melibatkan 540 siswa di 20 sekolah dasar di Bulungan dan Malinau. Dari sana kami temukan, para siswa umumnya membaca buku pelajaran dari sekolah. Itu terjadi karena satu-satunya buku yang tersedia adalah buku pelajaran sekolah. Kami kekurangan buku yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak.”

Dalam sambutan pembukaannya di lokakarya, Moch. Abduh, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud, berbicara tentang pentingnya lokakarya dan hasil-hasilnya untuk memajukan masalah ketersediaan dan pasokan buku cerita.

“Ketika kami melihat pengadaan buku saat ini, ada banyak rangkaian peristiwa yang membuat kami menyelenggarakan workshop ini. Minat membaca di Kaltara sangat tinggi, hampir 85%. Ketika mereka mengatakan suka, itu sudah menunjukkan minat membaca tinggi. Tetapi ketika ditanya buku apa yang suka mereka baca, jawabannya adalah buku pelajaran. Anak-anak bosan jika mereka hanya memiliki buku pelajaran di sekolah dan di rumah. Semoga hasil dari lokakarya ini dapat mengarah pada tinjauan daftar buku nasional yang ada. Kita perlu membahas tantangan untuk masa depan, rencana, termasuk masukan dari penerbit, dan peran pemerintah daerah. Ini adalah niat kami untuk meningkatkan kualitas pengembangan sumber daya manusia Indonesia.”

 

INOVASI di Kalimantan Utara: menghubungkan bukti lokal dengan diskusi kebijakan nasional

Di keempat provinsi mitranya, INOVASI menerapkan lebih dari 45 program rintisan, dengan banyak di antaranya berfokus pada literasi dasarmelek huruf awal. Di Kalimantan Utara, di mana INOVASI bekerja di kabupaten Malinau dan Bulungan, upaya untuk meningkatkan dan memperluas pendekatan untuk memperkuat literasi telah menjadi fokus utama. Ini termasuk persediaan dan ketersediaan buku.

Pada tahun 2018, dengan dukungan dari INOVASI, Bulungan menjadi daerah pertama di Indonesia yang mendanai buku bacaan siswa dengan BOSDA, dana lokal di bawah program Bantuan Operasional Sekolah. Alokasi pendanaan telah dimasukkan dalam perencanaan anggaran daerah Bulungan.

“Kebijakan ini memperluas peluang anak-anak, menyediakan buku bacaan yang dapat membangun imajinasi mereka dan memperkuat karakter mereka,” jelas Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bulungan dalam Rapat Koordinasi Penggunaan BOSDA di Tanjung Selor, Kaltara.

Di bawah kebijakan kabupaten yang baru ini, setiap sekolah diharuskan untuk membeli berbagai buku, termasuk novel, buku cerita, komik, dan buku-buku tentang sejarah, sastra, dan topik pengetahuan umum. Sekolah diharuskan untuk menghabiskan anggaran BOSDA untuk menyediakan setidaknya lima buku baru dengan lima judul yang berbeda setiap tahun. Ketersediaan buku-buku ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca bagi 24.094 siswa Bulungan di 778 sekolah dasar dan 245 sekolah menengah pertama. Ketentuan buku-buku ini juga diatur dalam pedoman teknis terbaru untuk penggunaan BOSDA di Bulungan.

Bulungan juga telah membentuk tim literasi untuk menyetujui buku-buku dan istri Gubernur ditunjuk sebagai ‘Bunda Baca’; advokat yang bersemangat untuk gerakan membaca di seluruh provinsi. Koordinasi antara pemerintah desa dan sekolah telah ditingkatkan, LSM menyediakan buku bacaan anak dan INOVASI sedang menguji coba penggunaan buku digital yang diproyeksikan ke dinding ruang kelas untuk membaca bersama. Upaya untuk meningkatkan literasi sedang berjalan.

Baru-baru ini di tingkat nasional, dan dengan masukan dari INOVASI, Puskurbuk mengeluarkan keputusan tentang perluasan penggunaan buku bacaan anak dari tingkat anak usia dini (PAUD) ke tingkat sekolah dasar kelas awal. Ini berarti bahwa pada tahun 2019, sekolah dasar di Indonesia akan diizinkan untuk membelanjakan dana BOS untuk pengadaan buku bacaan anak-anak. Ini adalah langkah positif ke arah yang lebih baik.

 

Apa langkah selanjutnya?

Di tahun 2019, INOVASI akan terus mengumpulkan dan mengkomunikasikan bukti dari program rintisan literasi, baik di Kalimantan Utara maupun provinsi mitra lainnya, tentang apa yang berhasil dan tidak berhasil untuk memperkuat hasil literasi. Dari hasil lokakarya Desember ini dengan Puskurbuk, diskusi lebih lanjut akan diadakan untuk terus melihat bagaimana proses persetujuan buku dapat disederhanakan.

Rekomendasi yang muncul dari lokakarya Puskurbuk bulan ini juga akan ditindaklanjuti, termasuk kebutuhan untuk melakukan tinjauan yang lebih teratur terhadap daftar buku nasional sehingga lebih banyak buku cerita anak-anak dapat dimasukkan dan diakses di tingkat kabupaten dan sekolah.

Dengan kekuatan buku cerita yang bagus, kita dapat melihat kemajuan nyata bagi anak-anak Indonesia.

Membangun gerakan literasi nasional: kekuatan sebuah buku bacaan yang bagus