Melatih guru di Sumba Barat tentang literasi dasar

Pada suatu hari yang cerah di awal bulan November di Sumba Barat, hari yang sempurna untuk sebuah pelatihan literasi dasar untuk guru. Bau harum nasi ditanak, menyapa guru dan kepala sekolah yang mulai berdatangan ke SD Katholik Kalelapa, Tana Righu Sumba Barat. Siang itu, 20 fasilitator daerah (Fasda) INOVASI Kabupaten Sumba Barat mengikuti pelatihan literasi dasar unit 2B, yaitu pemanfaatan Big Book (buku besar) dalam proses pembelajaran di kelas. Kelas yang dipakai kali ini adalah dua ruang kelas yang bisa dijadikan satu ruangan. Dua ruang kelas yang dipakai kegiatan, dipisahkan oleh papan-papan yang bisa dicopot dan dipasang sekehendak hati, sesuai kebutuhan.

Pelatihan dimulai dengan pembukaan oleh Jacobus, Koordinator Fasda INOVASI Kabupaten Sumba Barat. Setelahnya, peserta diajak untuk melakukan refleksi dan bercerita tentang bagaimana pembuatan big book dilakukan di sekolah masing-masing.

Peserta dari SD Lokory menunjukkan 20 big book hasil karyanya dengan tema beragam. Satu per satu para guru kelas awal tersebut menunjukkan hasil karyanya. Kebanyakan dari guru ini mengalami masalah dengan proses kreatif dalam membuat ilustrasi gambar. Namun, masalah ini terpecahkan dengan cara mengambil gambar di internet.

Big Book yang menarik juga dibuat oleh SD Inpres Puu Boghila. Viktor I Saingo, guru kelas tiga di SDI Puu Boghila menceritakan tentang big book hasil karya guru-guru SDI Puu Boghila. Ide ceritanya diambil dari budaya keseharian di Sumba yang dalam aktivitas keseharian menggunakan parang, gading dan sarung Sumba. Tiga buku besar tersebut bertutur tentang proses pembuatan, bagian-bagian yang ada pada alat-alat tersebut, manfaat, fungsi, serta penggunaannya.

Sesaat setelah refleksi berakhir, sebuah video tentang bagaimana menggunakan big book diputar. Di dalam video ini, Yusrizal, Fasilitator Kabupaten INOVASI untuk Sumba Barat, bercerita di depan siswa-siswi salah satu sekolah di Tana Righu sembari menunjukkan big book. Antusiasme siswa-siswi kelas awal itu nampak dari pandangan mereka. Sesekali, Yusrizal melemparkan pertanyaan-pertanyaan sederhana kepada mereka. Setelah video selesai diputar, Yusrizal meminta dua orang peserta untuk maju dan mempraktikkan penggunaan big book.

Pelatihan pun dilanjutkan dengan sesi penulisan skenario pembelajaran dengan menggunakan big book. Oleh fasilitator, peserta kembali diingatkan untuk membagi skenario pembelajaran ke dalam tiga bagian, yaitu pembukaan, inti dan penutupan. Skenario yang telah selesai ditempel di dinding ruang dan harus dipraktikkan oleh satu wakil kelompok di depan ruangan. Saat wakil kelompok mempraktikkan, seluruh peserta berperan sebagai siswa.

Setelah selesai seluruh presentasi, saatnya evaluasi. Evaluasi dilakukan bersama-sama dengan semangat belajar. Yusrizal dalam sesi ini sempat mengingatkan, bahwa status dan posisi para fasilitator saat mereka bertugas melakukan pendampingan, harus dikesampingkan. Keberhasilan guru-guru mitra dalam mengimplementasikan hasil dari pelatihan juga menjadi tanggung jawab para fasda.

Melatih guru di Sumba Barat tentang literasi dasar