Kabupaten Bulungan Kembangkan KKG Mandiri untuk Mengatasi Rendahnya Keterampilan Membaca Siswa

Di banyak wilayah di Indonesia, kebutuhan akan budaya membaca sangat kuat. Tidak terkecuali di Kalimantan Utara. Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan oleh Kemendikbud RI menunjukkan nilai rata-rata literasi membaca untuk Kalimantan Utara adalah dua poin di bawah rata-rata nasional (RPSA Kaltara 2017). Temuan ini juga diperkuat Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia yang dilakukan INOVASI. Survei ini menemukan bahwa hanya 14,59 persen siswa kelas 1 SD yang mampu membaca dan 60,94 persen di kelas 2.

Seluruh daerah di Indonesia tengah didorong untuk mencari jalan mengatasi rendahnya keterampilan membaca siswa SD. Kabupaten Bulungan di Kalimantan Utara (Kaltara), menjawab tantangan ini dengan mengembangkan Kelompok Kerja Guru (KKG) mandiri.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bulungan, Suparmin Setto, mengatakan KKG mandiri dirancang untuk merespon hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dirilis Kemendikbud tahun 2016. Hasil AKSI menunjukkan 46,83% siswa kelas 4 SD di Indonesia belum memiliki keterampilan membaca yang baik. Padahal, terampil membaca merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk anak bisa belajar dan berkembang. Dengan terampil membaca, anak bisa mempelajari mata pelajaran apapun.

“Kita tengah berjuang melawan waktu agar anak sudah bisa membaca paling lambat kelas 3 SD,” terang Suparmin.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika sampai kelas 3 SD anak tidak bisa membaca, mereka terancam mengalami Efek Matthew. Mereka akan tertinggal terus menerus dari teman sebayanya karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Itu disebabkan semua mata pelajaran mengharuskan anak bisa membaca. “Anak tidak cukup bisa membaca teks, tetapi harus sampai mampu memahami makna yang dibaca dan bisa mengkomunikasikan makna bacaan dengan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, nalar anak bisa berkembang,” tambahnya.

Kesempatan siswa belajar membaca, hanya saat mereka berada di kelas awal atau kelas 1-3 SD. Setelah berada di kelas 4, siswa akan menggunakan keterampilan membaca untuk belajar ilmu pengetahuan. Keterampilan mengajar guru kelas awal menjadi faktor penting untuk meningkatkan keterampilan membaca anak.

Lebih lanjut, Suparmin mengatakan guna meningkatkan keterampilan mengajar literasi kelas awal, Kabupaten Bulungan mengembangkan program KKG mandiri. KKG mandiri didesain dengan memperhatikan empat aspek yaitu modul, metode, fasilitator dan pembiayaan. “Kami menggunakan modul dan metodologi pelatihan yang sudah teruji, fasilitator terlatih dan pembiayaan yang berkelanjutan. Ini adalah empat kekuatan dari model KKG mandiri yang kami kembangkan,” tutur Suparmin.

Selama setahun, kegiatan di KKG mandiri menggunakan modul pelatihan praktikal. Hal ini bertujuan agar guru bisa langsung mengimplementasikan hasil pelatihan di kelas masing-masing. Isi pelatihan termasuk materi pengenalan literasi, penggunaan big book, kesadaran fonologis, membaca kata, membaca pemahaman dan keterampilan menulis.

Desain pelatihan menggunakan pendekatan in-on-in atau pelatihan-sekolah-pelatihan. Artinya, proses pengembangan kapasitas guru tidak berhenti sampai di ruang pelatihan saja, tetapi berlanjut sampai di kelas masing-masing dengan pendampingan yang kompeten. Fasilitator terlatih dikirim ke sekolah-sekolah guna mendampingi guru menerapkan materi pelatihan. Proses pendampingan ini merupakan kunci mengubah metode pembelajaran yang dilakukan guru. Di kegiatan ‘in’ berikutnya, guru bisa merefleksikan apa yang telah dilakukannya di ruang kelas.

Pelatihan dan pendampingan dilakukan oleh fasilitator terlatih. Mereka merupakan kepala sekolah, pengawas dan guru-guru terbaik dari gugus masing-masing. Mereka telah dilatih dan sudah terlebih dahulu mengimplementasikan materi pelatihan serupa di sekolah dan kelasnya masing-masing. Lewat model ini proses pelatihan dan pendampingan akan berlangsung praktikal dan kolegial.

Seluruh proses KKG ini akan dibiayai mandiri oleh sekolah dengan menggunakan multi sumber keuangan. Sekolah akan memanfaatkan Biaya Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS), Biaya Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), tunjangan profesi guru dan dukungan dari perusahaan yang ada di sekitar sekolah melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). “Itu sebabnya kita menyebutnya KKG mandiri, karena kegiatan KKG dan pembiayaannya dilakukan mandiri oleh sekolah,” tambah Suparmin.

Penggunaan tunjangan sertifikasi untuk membiayai KKG merupakan pendekatan baru. Model ini memastikan guru-guru yang telah disertifikasi pemerintah mendapat pelatihan yang berkelanjutan sehingga mutu mereka terjaga dan siap menghadapi tantangan pendidikan. “Kami juga bekerjasama dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan agar seluruh proses KKG mandiri ini bisa diakui menjadi bagian pengembangan keprofesian berkelanjutan atau PKB. Ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh guru-guru yang sudah tersertifikasi,” tegasnya.

Handoko Widagdo, Provincial Manager INOVASI Kalimantan Utara mengatakan, mengubah metode pembelajaran akan berdampak besar kepada hasil belajar anak. Hasil Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) yang dilakukan INOVASI, menemukan 72,61% waktu pembelajaran masih menggunakan pendekatan berpusat pada guru atau teacher-centre, di mana 42,47% waktu belajar dihabiskan guru dengan berceramah. Hanya 19,18% waktu pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berdiskusi dengan teman sebayanya. “Desain pendidikan abad 21 mendorong proses pembelajaran menjadi student-centre. Artinya anak yang lebih aktif dalam proses pembelajaran,” terang Handoko.

Handoko mengatakan KKG mandiri Bulungan, merupakan cara yang efektif dan efesien membantu guru mengubah pembelajaran. Perubahan ini akan mampu meningkatkan mutu pendidikan. “KKG mandiri Bulungan didesain dengan memperhatikan modul pelatihan, metodologi, sumber daya manusia dan pembiayaan yang berkelanjutan. Keempat faktor ini yang membuat KKG mandiri Bulungan akan memberikan dampak kepada peningkatan mutu pendidikan,” tutupnya.

Implementasi KKG mandiri di Bulungan pada tahap awal, dilaksanakan oleh 8 gugus sekolah dengan melibatkan 188 pendidik. Program ini memberikan manfaat kepada 3.080 siswa kelas awal yang tersebar di 48 SD/MI.

Kabupaten Bulungan Kembangkan KKG Mandiri untuk Mengatasi Rendahnya Keterampilan Membaca Siswa